Jakarta – El Salvador, negara pertama yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran sah, mengumumkan rencana pemindahan cadangan kriptonya ke sejumlah alamat baru. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan sekaligus menjaga transparansi.
Dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (30/8/2025), setiap alamat baru akan menampung hingga 500 Bitcoin atau sekitar USD 54 juta (Rp 886,74 miliar). Kantor Bitcoin Nasional menyatakan saldo penuh dari seluruh alamat dapat dipantau publik melalui dasbor khusus.
Hingga Jumat lalu, cadangan Bitcoin El Salvador tercatat sekitar USD 682 juta atau Rp 11,19 triliun. Strategi akumulasi kripto negara ini dimulai sejak 18 November 2022 dengan membeli satu Bitcoin setiap hari. Data menunjukkan total kepemilikan mencapai 1.000 BTC.
Kebijakan ini terbukti menguntungkan setelah harga Bitcoin menembus rekor USD 124.000 (Rp 1,99 miliar), menghasilkan laba belum terealisasi senilai USD 66 juta atau Rp 1 triliun—setara keuntungan 115%.
Presiden Nayib Bukele, yang mendanai pembelian dengan dana publik, menegaskan Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang. Keberhasilan ini menimbulkan perbandingan dengan langkah MicroStrategy pada 2020, namun kali ini dilakukan oleh sebuah negara berdaulat.
Sementara itu, harga Bitcoin tercatat USD 123.810,92 dengan kapitalisasi pasar USD 2,46 triliun. Dalam 90 hari terakhir, BTC menguat 19,36%, mendorong kenaikan aset kripto lain dan meningkatkan minat investor global.
Pengamat menilai strategi El Salvador bisa menjadi preseden bagi negara lain dalam mengintegrasikan Bitcoin ke dalam kebijakan cadangan nasional.