Memasuki September 2025, para pedagang kripto mulai berhati-hati. Secara historis, bulan ini dikenal sebagai periode terburuk bagi Bitcoin (BTC). Data Coinglass mencatat rata-rata kerugian Bitcoin di bulan September mencapai sekitar 67%, meski ada pengecualian di tahun 2015, 2016, 2023, dan 2024 ketika BTC ditutup hijau.
Analis menilai pelemahan harga di bulan ini dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Illya Gerasymchuk, tekanan datang dari kenaikan suku bunga repo, melambatnya pinjaman di akhir kuartal, serta tenggat pembayaran pajak perusahaan AS pada 15 September yang kerap menguras likuiditas global. Kondisi tersebut menekan aset berisiko, termasuk kripto.
Meski begitu, investor menaruh harapan pada bulan berikutnya. Oktober secara historis dikenal sebagai bulan positif bagi Bitcoin, bahkan dijuluki “Uptober”. Sejak 2013, BTC menutup Oktober dengan kenaikan hingga 83% dari waktu yang ada, dengan reli besar terjadi pada 2013 (+60,79%), 2017 (+47,81%), 2020 (+27,7%), dan 2023 (+28,52%).
Dengan pola ini, September kerap dipandang sebagai fase penuh tantangan sekaligus peluang akumulasi, sebelum pasar kripto berpotensi memasuki reli pada kuartal keempat.