Untuk pertama kalinya sejak diluncurkan lebih dari satu dekade lalu, Bitcoin (BTC) tercatat gagal mengikuti pola siklus empat tahunan yang selama ini menjadi acuan banyak pelaku pasar.
Tahun setelah halving yang biasanya berakhir positif justru ditutup dengan kinerja negatif.
Penutupan 2025 dengan candle tahunan merah menandai perubahan besar dalam perilaku pasar Bitcoin, sekaligus mematahkan pola yang konsisten sejak era awal kripto ini berkembang.
Pola Siklus Bitcoin yang Selama Ini Dianggap “Hukum Alam”
Selama lebih dari 10 tahun, Bitcoin bergerak dalam ritme yang relatif berulang. Pola tersebut terlihat jelas pada siklus 2013, 2017, dan 2021.
Tahun halving biasanya ditutup positif, disusul lonjakan harga yang lebih kuat pada tahun berikutnya, sebelum akhirnya pasar memasuki fase koreksi besar.
Pola ini membuat siklus empat tahunan Bitcoin kerap dianggap sebagai pegangan utama dalam membaca arah pasar jangka menengah hingga panjang. Namun, siklus terbaru menunjukkan hasil berbeda.
Halving 2024 memang berjalan sesuai ekspektasi dengan penguatan harga. Akan tetapi, 2025 justru berakhir dengan penurunan tajam.
Secara kuartalan, Bitcoin tercatat turun hampir 28% pada Q4 2025, sekaligus menutup tahun dengan performa negatif.