- Ancaman Tarif 100% untuk China
Trump sempat mengumumkan tarif 100% atas seluruh impor China pada Oktober 2025 sebelum akhirnya menundanya.
Jika kebijakan ini diaktifkan kembali pada 2026, pasar berisiko memproyeksikan pertumbuhan global melemah dan inflasi bertahan tinggi.
Bagi Bitcoin, kombinasi ini biasanya memicu pengetatan likuiditas dan aksi keluar dari aset berisiko dalam jangka pendek.
- Kenaikan Tarif Impor Global
Selain China, Trump juga membuka kemungkinan kenaikan tarif impor global di atas baseline 10% yang berlaku pada 2025.
Berbeda dengan kejutan satu hari, kebijakan ini bersifat struktural dan memberi tekanan berkelanjutan pada sentimen pasar.
Dampaknya, reli Bitcoin cenderung lebih rapuh dan mudah terhenti ketika ekspektasi suku bunga kembali naik.
- Tarif Balasan atas Pajak Layanan Digital Eropa
Trump menyoroti negara-negara yang menerapkan pajak layanan digital terhadap perusahaan teknologi AS. Jika tarif balasan diberlakukan pada 2026, pasar saham global berpotensi terkoreksi.
Dalam skenario seperti ini, kripto sering menjadi aset pertama yang terkena gelombang risk-off, sebagaimana terlihat pada beberapa episode 2025.
- Tarif Farmasi hingga 200%
Kebijakan lain yang disorot adalah tarif tinggi pada produk farmasi impor, dengan potensi kenaikan hingga 200%. Langkah ini diposisikan sebagai upaya mendorong produksi domestik.
Namun bagi pasar, kebijakan ini lebih dulu dibaca sebagai dorongan inflasi, yang biasanya menekan Bitcoin sebelum narasi lindung nilai kembali muncul.
- Perluasan Secondary Tariffs
Secondary tariffs menargetkan negara pihak ketiga yang berdagang dengan negara yang dikenai sanksi AS. Jika diperluas pada 2026, kebijakan ini dapat menyeret lebih banyak negara ke konflik dagang.
Implikasinya bagi Bitcoin adalah volatilitas yang lebih lebar, aksi jual paksa yang lebih sering, dan pemulihan harga yang cenderung melambat.