Jakarta – Harga Bitcoin melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa pagi (6/1/2026), menembus level teknikal penting dan mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Kenaikan ini terjadi seiring aset digital mulai mengejar reli saham dan logam mulia di tengah dinamika geopolitik global.
Mengutip Yahoo Finance, harga Bitcoin (BTC) naik 2,14% dalam 24 jam terakhir dan menguat 7,59% dalam sepekan. BTC diperdagangkan di kisaran USD 93.656 atau sekitar Rp 1,56 miliar. Ethereum (ETH) turut menguat 1,94% harian dan melonjak 9,4% dalam sepekan ke level USD 3.206.
Pada perdagangan Senin waktu New York, Bitcoin sempat naik hingga 3,9% dan diperdagangkan di sekitar USD 94.000, level tertinggi sejak 17 November. Penguatan Bitcoin sejalan dengan kenaikan emas, perak, dan saham, di tengah reaksi pasar terhadap penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS.
Secara teknikal, Bitcoin berhasil melampaui rata-rata pergerakan 50 hari untuk pertama kalinya sejak tekanan pasar kripto pada awal Oktober, menandakan pijakan harga yang lebih kuat. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati menyikapi spekulasi terkait potensi cadangan Bitcoin “bayangan” Venezuela dari aset kripto yang disita, sebagaimana disoroti perusahaan opsi kripto QCP.
Minat investor juga tercermin dari arus dana ke ETF Bitcoin. Pada 2 Januari, sekitar USD 471 juta mengalir ke 12 ETF Bitcoin yang terdaftar di AS, tertinggi sejak November. Aktivitas derivatif turut meningkat, dengan tingkat pendanaan kontrak berjangka Bitcoin berada di level tertinggi sejak pertengahan Oktober. LGO99 Alternatif
Meski demikian, analis menilai pasar masih dalam fase stabil. Investor kini mencermati apakah Bitcoin mampu bertahan di atas USD 94.000, dengan level support penting di kisaran USD 88.000. Data pasar opsi menunjukkan sebagian pelaku mengincar potensi kembalinya Bitcoin ke level USD 100.000 dalam jangka pendek.