Jakarta – Harga Bitcoin melonjak tajam hingga menyentuh level USD 93.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar, menjadi posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela pada 5 Januari 2026.
Mengutip CoinMarketCap, lonjakan harga Bitcoin mencerminkan pola historis di mana aset kripto kerap menguat saat terjadi krisis global. Ketidakpastian geopolitik mendorong sebagian investor melirik Bitcoin sebagai aset lindung nilai (safe haven), meski di sisi lain berpotensi meningkatkan volatilitas jangka pendek.
Dampak ketegangan geopolitik tidak hanya terasa di pasar kripto, tetapi juga di berbagai pasar keuangan lain. Ketika risiko global meningkat, aliran dana ke Bitcoin dan aset digital terkait cenderung menguat, sehingga mendorong kenaikan harga dalam jangka pendek.
Sejumlah pengamat menilai kondisi ini berpotensi memperkuat posisi Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Namun, sejarah juga menunjukkan konflik geopolitik dapat memicu fluktuasi harga yang tajam serta memengaruhi likuiditas pasar kripto.
Ke depan, regulator diperkirakan akan semakin mencermati peran dan penggunaan aset kripto dalam konteks geopolitik, yang dapat berdampak pada dinamika pasar serta perkembangan industri blockchain secara keseluruhan.