Jakarta – Ekonom sekaligus pengkritik Bitcoin, Peter Schiff, memulai 2026 dengan proyeksi pelemahan harga Bitcoin setelah aset kripto tersebut mencatat kinerja negatif sepanjang 2025, meski didukung sentimen pasar yang cenderung bullish.
Dalam analisis pasar yang dipaparkan melalui video prediksi awal tahun, Schiff menilai kegagalan Bitcoin untuk menguat di tengah berbagai sentimen positif menjadi sinyal bahwa potensi kenaikannya telah terbatas dan menyimpan kerentanan struktural. Ia menyoroti kontras kinerja Bitcoin dengan aset konvensional sepanjang 2025, ketika indeks Dow Jones naik 13%, S&P 500 menguat 16,4%, dan Nasdaq melonjak 20,4%. Sementara itu, emas tercatat naik 64% dan perak lebih dari dua kali lipat.
Schiff juga menyinggung kinerja ETF Bitcoin yang mencatat penurunan lebih dari 7,5% sepanjang 2025, berlawanan dengan penguatan pasar saham dan logam mulia. Selain itu, Strategy—yang kerap dianggap sebagai proksi pergerakan Bitcoin—ditutup pada level terendah baru dalam 52 minggu, mencerminkan lemahnya permintaan menurut Schiff.
Ia menegaskan, jika suatu aset gagal naik di tengah derasnya kabar positif, hal tersebut menandakan seluruh sentimen baik sudah tercermin dalam harga dan ruang pergerakan selanjutnya justru cenderung turun. Berdasarkan perhitungannya, rata-rata biaya kepemilikan Bitcoin Strategy berada di kisaran USD 75.000, sehingga potensi keuntungan dinilai semakin terbatas saat harga Bitcoin mendekati USD 87.000. OKESLOT Alternatif
Untuk ke depan, Schiff memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi turun hingga sekitar USD 50.000. Dari sisi makroekonomi, ia memperkirakan perlambatan pertumbuhan ekonomi, inflasi yang tetap tinggi, serta meningkatnya tekanan politik terhadap kebijakan moneter pada 2026, kondisi yang menurutnya akan lebih menguntungkan logam mulia dibandingkan Bitcoin.