Pergerakan pasar global kembali menunjukkan pola yang pernah muncul di siklus sebelumnya.
Saat emas mencatat reli lebih dulu, Bitcoin (BTC) justru belum langsung bergerak agresif. Menurut analis kripto Michaël van de Poppe, fase ini kerap menjadi awal dari rotasi modal yang lebih besar, bukan akhir dari tren.
Dalam kondisi makro yang penuh tekanan, emas masih berperan sebagai tujuan utama aliran dana defensif.
Saat inflasi tinggi, likuiditas ketat, dan risiko global meningkat, investor cenderung memarkir modal di aset lindung nilai.
Data historis menunjukkan bahwa fase reli emas sering berakhir dengan konsolidasi. Di titik ini, kenaikan harga mulai melambat, sementara sebagian investor melakukan profit taking.
Menurut Van de Poppe, fase konsolidasi emas bukan sinyal melemahnya pasar secara keseluruhan, melainkan indikasi bahwa modal mulai bersiap berpindah.
Bitcoin Kerap Bergerak Setelah Emas Selesai Reli
Pola tersebut terlihat jelas pada beberapa siklus sebelumnya. Pada periode 2016 hingga 2017, emas mencapai puncaknya lebih dulu dan bergerak sideways. Setelah itu, Bitcoin memasuki fase reli besar yang mendefinisikan satu siklus penuh pasar kripto.
Kondisi serupa kembali terjadi pada 2020. Emas mencetak rekor harga, lalu pergerakannya melambat. Tak lama setelahnya, Bitcoin memulai fase ekspansi yang berlangsung selama beberapa tahun.