Analis kripto Michaël van de Poppe menyoroti pola makro yang dinilai berulang: emas reli lebih dulu, lalu Bitcoin mencatat kenaikan besar setelahnya.
Analisis ini didasarkan pada perbandingan siklus historis dan pergeseran aliran modal saat ketegangan makro meningkat.
Menurutnya, emas dan Bitcoin bukan aset yang saling meniadakan. Keduanya justru bergerak berurutan, mencerminkan perubahan preferensi investor dari aset defensif ke aset berisiko lebih tinggi ketika selera risiko kembali.
Bukti Historis: 2016 – 2017 dan 2020
Van de Poppe menunjuk periode 2016 – 2017 sebagai contoh jelas. Saat itu, emas mencapai puncak lebih dulu dan memasuki fase konsolidasi, lalu Bitcoin memulai bull run yang menjadi penanda siklus.
Pola serupa muncul pada 2020. Emas mencetak rekor tertinggi, berhenti sejenak, dan setelahnya Bitcoin memasuki fase ekspansi multi-tahun.
Dalam kedua kasus, modal defensif “diserap” emas lebih dahulu sebelum berotasi ke kripto.
Sinyal Saat Ini: Jendela Rotasi Terbuka
Data terbaru menunjukkan emas kembali berada di level tinggi dan terlihat semakin extended. Secara historis, fase ini kerap diikuti ambil untung dan konsolidasi, bukan kelanjutan reli instan.
Van de Poppe menekankan bahwa sinyal ini bukan spesifik Bitcoin, melainkan gambaran pergeseran makro. Ketika ketidakpastian mereda, likuiditas cenderung bergerak dari safe haven menuju aset pertumbuhan.
Ia memperkirakan 1,5 hingga 2 tahun ke depan bisa menjadi periode penting bagi Bitcoin dan pasar kripto jika pola lama terulang.
Intinya sederhana: emas sering bergerak lebih dulu, namun Bitcoin kerap mencatat pergerakan yang lebih besar setelah rotasi dimulai.