Potensi meningkatnya produksi minyak Venezuela dinilai bisa menurunkan biaya listrik global dan memberi ruang napas bagi industri mining Bitcoin (BTC).
Analisis ini disampaikan tim riset Bitfinex, yang menilai akses Amerika Serikat ke cadangan minyak Venezuela berpotensi membawa efek lanjutan ke sektor energi dan kripto, meski tidak terjadi dalam waktu singkat.
Dalam catatan terbarunya, Bitfinex menyebut energi yang lebih murah dan melimpah dapat memperbaiki margin keuntungan penambang Bitcoin, terutama di tengah tekanan harga aset, kenaikan mining difficulty, dan biaya listrik yang terus meningkat.
Akses minyak Venezuela dan kaitannya dengan mining Bitcoin
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel. Namun, selama bertahun-tahun kapasitas produksinya anjlok akibat krisis ekonomi, sanksi internasional, dan keterbatasan infrastruktur.
Situasi ini mulai berubah setelah Amerika Serikat meningkatkan intervensi terhadap sektor energi Venezuela.
Sejak Desember 2025 lalu, AS dilaporkan menyita tanker minyak Venezuela dan mendorong perusahaan energi asal AS untuk masuk dan mengelola produksi minyak di negara tersebut.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan besar AS yang masih beroperasi di Venezuela, sementara pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong keterlibatan pemain energi lainnya.
Bitfinex menilai, bahkan peningkatan kecil pada produksi minyak Venezuela sudah cukup untuk memberi tekanan turun pada harga energi global. Dampaknya bisa menjalar ke biaya produksi listrik, komponen utama dalam operasional mining Bitcoin.
Energi lebih murah, margin miner berpeluang membaik
Mining Bitcoin sangat bergantung pada listrik berbiaya rendah. Dalam beberapa tahun terakhir, margin penambang tergerus oleh kombinasi harga Bitcoin yang terkoreksi, kenaikan tingkat kesulitan penambangan, serta lonjakan tarif listrik di berbagai wilayah.
Menurut Bitfinex, jika pasokan energi global bertambah dan harga minyak menurun, biaya listrik bagi penambang dapat ikut turun. Kondisi ini berpotensi:
- memperbaiki margin keuntungan miner,
- membuka peluang ekspansi penambangan baru,
- dan mendorong kontrak listrik jangka panjang di wilayah tertentu.
Namun, Bitfinex menekankan bahwa efek ini bersifat struktural dan tidak langsung berdampak pada harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Dampak jangka panjang, bukan katalis instan
Meski potensinya besar, peningkatan produksi minyak Venezuela diperkirakan tidak terjadi cepat.
Bitfinex menilai setiap kenaikan signifikan output minyak akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, tergantung pada stabilitas politik dan kebijakan sanksi yang masih membayangi Venezuela.
Pandangan ini diperkuat oleh Matt Mena, analis dari 21Shares, yang menyebut pemulihan sektor minyak Venezuela ke level optimal bisa memakan waktu hingga satu dekade.
Dibutuhkan investasi infrastruktur lebih dari US$100 miliar untuk mengembalikan kapasitas produksi negara tersebut ke masa jayanya.
Sebagai perbandingan, Venezuela pernah memproduksi sekitar 3,5 juta barel minyak per hari pada 1970-an, setara 7% produksi global. Saat ini, produksinya turun ke sekitar 1 juta barel per hari atau hanya 1% dari pasokan dunia.
Harga minyak turun, tapi pengaruh ke kripto tetap terbatas
Setelah intervensi AS, harga minyak mentah sempat melemah. Harga minyak acuan AS turun ke kisaran US$58 per barel, sekitar 3% lebih rendah dibandingkan puncaknya pada Desember. Penurunan ini memberi sedikit kelegaan bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi, termasuk mining Bitcoin.
Meski demikian, Bitfinex menegaskan bahwa pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto secara umum masih lebih dipengaruhi faktor makro, seperti selera risiko global, volatilitas pasar, dan pergerakan lintas aset, bukan semata perubahan harga energi.