Pasar kripto berada dalam mode waspada setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan kemungkinan aksi militer terhadap Kolombia.
Pernyataan ini muncul tak lama setelah operasi militer AS di Venezuela, sehingga meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap risiko geopolitik kawasan.
Meski bernada keras, reaksi awal aset kripto relatif terbatas. Pergerakan harga utama tidak menunjukkan lonjakan panik, menandakan pasar menilai ancaman ini belum berdampak langsung pada likuiditas global.
Pernyataan Trump Picu Ketegangan Regional
Ketegangan meningkat ketika Trump, berbicara kepada wartawan di Air Force One, menyebut opsi aksi militer terhadap pemerintah Kolombia “terdengar bagus”.
Ia mengkritik Kolombia terkait penyelundupan kokain ke AS dan menyiratkan ketidakstabilan politik di pemerintahan saat ini.
Pernyataan itu mengait pada rangkaian isu kawasan, termasuk perkembangan di Venezuela dan sorotan AS terhadap Kolombia dan Meksiko dalam konteks narkotika.
Di sisi lain, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum membantah keterlibatan langsung AS dalam operasi terhadap kartel, memicu respons lanjutan dari Trump bahwa “sesuatu harus dilakukan”.
Mengapa Geopolitik Penting bagi Kripto?
Dilansir dari CoinGape, secara historis, ketegangan geopolitik memicu volatilitas jangka pendek pada aset berisiko seperti kripto.
Namun, sensitivitas kripto kali ini terlihat lebih rendah, serupa dengan respons pasar saat operasi di Venezuela sebelumnya, ketika harga Bitcoin relatif stabil.
Indikator sentimen seperti Crypto Fear & Greed Index menunjukkan sikap pasar yang seimbang, bukan kepanikan.
Ini mengindikasikan pelaku pasar menilai risiko bersifat di ranah lokal, belum mengancam rantai pasok global atau sistem keuangan.
Pelajaran dari Konflik Sebelumnya
Pengalaman masa lalu menunjukkan dampak kripto bisa beragam. Saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, pasar global sempat jatuh dan Bitcoin ikut turun.
Tetapi kala itu, pemulihan berlangsung cepat ketika kripto digunakan sebagai alternatif transaksi di wilayah terdampak gangguan perbankan.
Contoh lain datang dari ekonomi yang terkena sanksi, di mana kripto berfungsi sebagai substitusi akses keuangan.
Iran, misalnya, dilaporkan memanfaatkan Bitcoin untuk transaksi lintas batas, dengan nilai transaksi sekitar $1 miliar pada 2021.