Chen Zhi, konglomerat Tiongkok yang dituduh mengoperasikan puluhan kompleks penipuan berbasis kerja paksa dan mencuri aset kripto bernilai miliaran dolar AS, dilaporkan telah ditangkap di Kamboja dan dideportasi ke Tiongkok untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Penangkapan ini terjadi setelah otoritas menyita lebih dari 127.000 Bitcoin senilai US$12 miliar atau sekitar Rp201 triliun.
Mengutip laporan The Cambodia China Times, otoritas menangkap Chen Zhi pada Selasa (6/1/2026). Chen merupakan warga negara Kamboja sekaligus pendiri dan Chairman Prince Holding Group. Ia telah didakwa sejak Oktober 2025 oleh otoritas Amerika Serikat atas tuduhan konspirasi penipuan wire fraud dan pencucian uang.
Jaksa menilai Chen memegang peran kunci dalam mengoperasikan jaringan penipuan kripto berskala global yang menyasar korban di Amerika Serikat dan berbagai negara lain. Operasi tersebut dijalankan melalui sejumlah kompleks tertutup di Kamboja, tempat ratusan pekerja diduga direkrut secara ilegal, ditahan, dan dipaksa menjalankan aktivitas penipuan daring.
Lancarkan Skema Pig Butchering dan Operasi Kerja Paksa
Salah satu modus utama yang digunakan adalah skema penipuan yang dikenal sebagai pig butchering. Dalam praktik ini, pelaku membangun hubungan personal jangka panjang dengan korban melalui komunikasi intensif. Setelah kepercayaan terbentuk, korban diarahkan untuk mengirimkan dana ke platform investasi kripto palsu yang seluruh dananya kemudian disedot habis.
Menurut dokumen dakwaan, jaringan yang dikendalikan Chen berhasil mengakumulasi lebih dari 127.271 Bitcoin. Seluruh aset tersebut kini berada dalam penguasaan pemerintah Amerika Serikat dan tengah diajukan untuk disita permanen oleh Departemen Kehakiman AS. Proses ini disebut sebagai aksi penyitaan perdata terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut.
Seiring dengan dakwaan pidana, Departemen Kehakiman AS juga menetapkan Prince Holding Group sebagai organisasi kriminal transnasional. Chen Zhi beserta sejumlah individu yang terkait dengannya turut dikenai sanksi resmi.
Jejak Dana Ilegal dan Skala Kejahatan Kripto Global
Jaksa mengungkap bahwa Chen secara langsung mengelola operasional kompleks penipuan tersebut. Ia disebut menyimpan catatan rinci aktivitas di setiap lokasi, serta mengarahkan penggunaan aset kripto untuk menyamarkan aliran dana hasil kejahatan. Sebagian dana tersebut kemudian digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah, termasuk perjalanan kelas atas dan pembelian karya seni bernilai tinggi seperti lukisan Pablo Picasso.
Meski kasus Chen mencakup hampir US$12 miliar dana kripto ilegal yang berhasil disita, skala kejahatan kripto global dinilai jauh lebih besar. Laporan Chainalysis mencatat bahwa saldo aset kripto yang terkait aktivitas kriminal di jaringan on-chain telah melampaui US$75 miliar atau sekitar Rp1.256 triliun.
Secara khusus, entitas ilegal tercatat memegang hampir US$15 miliar dana kripto pada Juli 2025. Angka ini melonjak lebih dari 300 persen dibandingkan 2020, dengan mayoritas dana berasal dari hasil pencurian dan penipuan.
Laporan Amnesty International pada Juni 2025 mengidentifikasi sedikitnya 53 kompleks di Kamboja yang digunakan untuk menjalankan skema pig butchering. Para korban melaporkan praktik perbudakan, perdagangan manusia, pekerja anak, hingga penyiksaan yang dilakukan secara sistematis oleh jaringan kriminal lintas negara.
Penangkapan Chen Zhi dinilai akan menjadi pukulan signifikan bagi operasi penipuan kripto berbasis kerja paksa di kawasan Asia Tenggara.