Setiap akhir tahun, pasar keuangan global memasuki fase yang tidak lazim. Aktivitas perdagangan menurun. Banyak institusi menutup pembukuan. Market maker mengurangi eksposur. Pelaku ritel mengalihkan perhatian ke agenda liburan dan aktivitas personal. Kondisi ini dikenal sebagai holiday effect.
Pasar kripto ikut terdampak. Bahkan, dalam banyak kasus, dampaknya lebih ekstrem. Berbeda dengan pasar saham atau valuta asing, pasar kripto beroperasi tanpa henti. Tidak ada jeda Natal atau Tahun Baru. Saat partisipasi pelaku pasar menurun, volatilitas justru meningkat.
Kondisi ini membuat periode libur akhir tahun menjadi salah satu fase paling berisiko untuk aktivitas trading kripto, terutama bagi trader ritel dan pengguna leverage.
Mengapa Likuiditas Menurun Saat Liburan?
Likuiditas menjadi fondasi utama pergerakan harga yang stabil. Saat likuiditas menipis, harga bergerak lebih tajam dan tidak proporsional. Order berukuran relatif kecil pun dapat memicu lonjakan atau penurunan harga yang signifikan.
Menurut Binance, penurunan likuiditas selama periode liburan terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Institusi keuangan mengurangi posisi untuk menekan risiko mark-to-market di akhir tahun. Market maker menarik sebagian modal dari order book. Aktivitas trader manusia menurun dan lebih banyak digantikan oleh sistem algoritmik. Partisipasi ritel melemah karena fokus terpecah ke aktivitas di luar pasar.
Kombinasi faktor tersebut membuat order book menjadi tipis dan jarak antar harga melebar. Kondisi ini membuka ruang bagi lonjakan harga tajam, flash wick, dan likuidasi berantai.
Dampak Nyata Volatilitas Masa Liburan
Fenomena ini bukan sekadar teori. Data historis menunjukkan pola yang konsisten. Pada Desember 2020, Bitcoin turun dari US$24.000 ke US$21.900 menjelang Natal, lalu melonjak hingga US$28.000 sebelum Tahun Baru.
Pada 26 Desember 2023, Bitcoin bergerak lebih dari 7 persen hanya dalam satu jam akibat dangkalnya likuiditas di pasar derivatif. Akhir pekan Thanksgiving juga kerap memicu flash wick dan likuidasi massal, terutama pada kontrak perpetual altcoin.
Pergerakan semacam ini bukan sinyal perubahan tren. Ini merupakan konsekuensi struktural dari pasar yang kekurangan partisipan aktif.
Narasi Santa Claus rally sering muncul di periode akhir tahun. Konsep ini berasal dari pasar tradisional. Namun, dalam konteks kripto, narasi tersebut tidak konsisten dan kerap menyesatkan.
Reli saat liburan tidak selalu mencerminkan kekuatan pasar. Kenaikan harga dapat terjadi semata-mata karena kekosongan likuiditas. Sebaliknya, penurunan tajam tidak otomatis menandakan pelemahan fundamental.
Pasar kripto memiliki basis likuiditas yang relatif lebih tipis dan tingkat leverage yang jauh lebih tinggi. Kombinasi ini membuat pergerakan harga selama liburan berisiko disalahartikan jika tidak dibaca dalam konteks struktur pasar.
Trader ritel paling rentan terdampak kondisi ini karena beberapa pola perilaku umum:
- Slippage meningkat. Eksekusi order sering terjadi jauh dari harga yang diharapkan.
- Flash wick muncul lebih sering. Harga bergerak ekstrem lalu berbalik dalam waktu singkat.
- Likuidasi berantai terjadi lebih cepat karena minimnya penyangga likuiditas.
Aset spekulatif kehilangan dukungan harga saat perhatian pasar menghilang.
Situasi ini menghukum pendekatan trading yang reaktif dan berbasis impuls.
Pendekatan Trading yang Lebih Aman Saat Liburan
Dalam kondisi likuiditas tipis, fokus utama adalah menjaga modal, bukan mengejar peluang, di antaranya:
- Pengurangan leverage menjadi langkah paling mendasar. Tanpa dukungan likuiditas yang memadai, penggunaan leverage tinggi tidak memiliki dasar struktural yang kuat.
- Limit order lebih aman dibanding market order karena membantu menghindari eksekusi buruk di order book yang kosong. Ukuran posisi juga perlu disesuaikan agar risiko likuidasi akibat pergerakan kecil tetap terkendali.
- Stop-loss dan alert sebaiknya dipasang sebelum menjauh dari layar. Volatilitas liburan sering terjadi justru saat trader tidak aktif memantau pasar.
Yang tidak kalah penting, tidak melakukan trading adalah pilihan yang sah. Bertahan di stablecoin, spot Bitcoin, atau menunggu likuiditas kembali normal di Januari merupakan strategi yang umum digunakan pelaku profesional.
Tool Pembantu Manajemen Risiko
Beberapa pendekatan analitis dapat membantu membaca kondisi pasar selama liburan, termasuk:
- Memantau perbedaan likuiditas antar exchange. Ketimpangan depth sering memicu volatilitas lintas platform.
- Mengamati peta likuidasi. Klaster likuidasi yang dekat dengan harga spot sering menjadi target pergerakan harga saat likuiditas rendah.
- Memperhatikan funding rate. Ketidakseimbangan ekstrem saat volume rendah mencerminkan eksposur berlebih, bukan keyakinan pasar.
- Mengikuti arus stablecoin. Meski relevan, sinyal ini cenderung kurang presisi saat periode liburan.
Alat-alat ini tidak menghilangkan risiko, tetapi membantu menggeser pendekatan dari spekulasi ke pengelolaan risiko.