Crypto Weekly Recap
Awal 2026 dibuka dengan dua arus besar yang terasa kontras, tapi saling nyambung. Di satu sisi, pasar mulai “merapikan” cara baca, siklus 4 tahunan Bitcoin (BTC) yang selama ini sering dijadikan patokan ternyata tidak berjalan mulus setelah halving terakhir.
Di sisi lain, sentimen global kembali panas karena isu geopolitik Amerika Latin, yang membuat pelaku pasar lebih hati-hati menilai risiko.
Di tengah kondisi itu, institusi terlihat makin percaya diri mengambil posisi pada aset tertentu, sementara pemain besar seperti Arthur Hayes mulai merotasi eksposur dari Ethereum (ETH) ke sektor DeFi yang dianggap punya pendapatan dan utilitas lebih jelas.
Berikut lima topik paling ramai dibicarakan sepekan ini.
1. Siklus 4 Tahunan Bitcoin Patah untuk Pertama Kalinya
Bitcoin menutup 2025 dengan candle tahunan merah, dan itu jadi anomali besar karena terjadi di periode setelah halving.
Selama lebih dari satu dekade, banyak pelaku pasar mengandalkan pola 4 tahunan sebagai kompas utama, tapi hasil kali ini berbeda.
Struktur pasar kini lebih kompleks karena faktor institusi, ETF spot, dan pengaruh makro yang makin dominan dibanding sekadar efek suplai halving.
2. Franklin Templeton Tegaskan Posisi di XRP, Dorong Narasi Institusi
Franklin Templeton (dana kelolaan disebut lebih dari US$1,6 triliun) menempatkan XRP sebagai bagian penting dari strategi aset digitalnya, dengan penekanan pada utilitas XRPL untuk settlement real-time dan efisiensi transaksi lintas negara.
Ini memperkuat sinyal bahwa minat institusi ke XRP tidak lagi sebatas spekulasi, tetapi lewat jalur eksposur yang lebih terstruktur dan teregulasi.
3. Arthur Hayes Rotasi dari ETH ke 4 Token DeFi
Data on-chain menunjukkan Arthur Hayes mengalihkan sebagian kepemilikan ETH ke empat token DeFi seperti Ethena (ENA), Ether.fi (ETHFI), Pendle (PENDLE), dan Lido DAO (LDO), dengan total alokasi yang disebut lebih dari US$3,4 juta.
Fokus yang disorot adalah pendekatan rotasi yang “terukur”, bukan transaksi cepat. PENDLE disebut jadi salah satu titik berat karena narasi pendapatan protokol dan model bisnis yield yang tetap berjalan di kondisi pasar yang selektif.
4. Konflik AS–Venezuela Memanas, Pasar Kripto Cenderung Terkendali
Isu Venezuela memicu peningkatan ketidakpastian geopolitik, dengan dampak yang lebih banyak masuk lewat jalur sentimen risk-off dan volatilitas energi.
Meski sempat ada tekanan singkat, respons harga kripto disebut relatif terukur, sehingga pasar terlihat menilai risiko ini belum menjadi guncangan sistemik.
5. Trump Ancam Aksi Militer ke Kolombia, Risiko Geopolitik Naik Lagi
Setelah isu Venezuela, pernyataan Trump soal kemungkinan aksi militer ke Kolombia membuat pasar kembali memasang mode waspada.
Reaksi awal kripto masih terbatas, mengindikasikan pelaku pasar menilai ini belum mengubah likuiditas global secara langsung.
Namun, topik ini tetap relevan dipantau karena eskalasi geopolitik yang beruntun sering mengubah perilaku investor dalam jangka pendek.