Salah satu hal yang membedakan Yat Siu dari banyak figur kripto lain adalah cara ia memandang nilai. Bukan harga crypto, bukan grafik, dan bukan valuasi jangka pendek. Nilai, baginya, lahir dari relasi antara pengguna dan sistem yang mereka masuki.
Pengalaman panjang di industri digital membuatnya paham satu hal sederhana: pengguna internet sudah lama menciptakan nilai, tetapi jarang memilikinya.
Pola ini juga terlihat pada banyak proyek blockchain awal, termasuk yang dibangun oleh para founder dan eksekutif kripto yang sering masuk daftar CEO ternama, seperti yang dibahas dalam artikel ini di mana pengaruh dan kepemimpinan tidak selalu sejalan dengan kepemilikan pengguna.
Ketika blockchain memperkenalkan sistem kepemilikan berbasis jaringan, Yat Siu melihat peluang untuk membalik relasi tersebut. Bukan dengan mengganti platform lama, tapi dengan membangun alternatif yang memberi ruang kepemilikan nyata bagi pengguna.
Dari Game Tradisional ke Fondasi Web3
Masuknya Yat Siu ke ranah Web3 tidak terjadi secara tiba-tiba. Dunia game menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman lamanya dengan potensi teknologi baru. Game sejak lama menjadi laboratorium ekonomi digital, lengkap dengan mata uang, item virtual, dan komunitas yang aktif.
Namun, pengalaman tersebut juga memperlihatkan batasannya. Ketika server mati, nilai ikut lenyap. Ketika akun diblokir, identitas pemain berhenti di situ. Pola ini serupa dengan banyak ekosistem digital tertutup yang selama bertahun-tahun berkembang tanpa memberi hak kepemilikan penuh kepada pengguna.
Blockchain menawarkan jalan keluar dari masalah tersebut. Aset digital tidak lagi terikat pada satu server, dan identitas tidak sepenuhnya dikendalikan oleh satu entitas. Dari titik inilah Web3 mulai relevan, bukan sebagai jargon teknis, tetapi sebagai fondasi baru ekonomi digital.