Bitcoin (BTC) mengalami tekanan tajam dan turun di bawah level penting sekitar Rp1,51 miliar per koin pada awal pekan ini, mengikuti gejolak pasar global yang dipicu oleh kekacauan pasar obligasi Jepang dan sentimen risk-off di pasar keuangan.
Penurunan ini sejalan dengan turunnya permintaan aset berisiko di seluruh dunia, membuat investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman atau menunggu ketidakpastian mereda.
Gejolak Obligasi Jepang Picu Kepanikan Global
Pasar keuangan global diguncang oleh lonjakan hasil obligasi pemerintah Jepang yang mencapai titik tertinggi sejak puluhan tahun terakhir.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa investor menjual surat hutang dan mencari aset yang lebih likuid, yang pada akhirnya memicu sentimen “risk-off” global.
Lonjakan hasil obligasi juga memperkuat perkembangan di mana investor mengurangi eksposur ke aset berisiko termasuk saham dan kripto, yang membuat Bitcoin merosot bersamaan dengan pasar ekuitas di AS.
Ketidakpastian ini dipicu oleh kekhawatiran akan pemilu Jepang dan implikasi kebijakan fiskal yang bisa mengubah arah pasar modal global.
Ketika hasil obligasi naik, harga obligasi turun, dan investor sering kali menutup posisi berisiko seperti saham dan kripto untuk mengamankan modal mereka. Situasi demikian menciptakan tekanan mekanis pada Bitcoin serta aset berisiko lainnya.