Sejumlah altcoin mencatat penguatan menjelang penutupan bulanan (monthly close), meski harga Bitcoin (BTC) masih bergerak terbatas di bawah level psikologis.
Kondisi ini memicu spekulasi apakah pasar kripto tengah bersiap memasuki fase altseason, atau justru hanya reli selektif di tengah struktur pasar yang rapuh.
Data terbaru menunjukkan penguatan altcoin tidak terjadi secara merata. Beberapa aset mencatat lonjakan signifikan, sementara mayoritas pasar masih dibayangi tekanan likuiditas dan melemahnya struktur teknikal jangka menengah.
Altcoin Menguat di Tengah Konsolidasi Bitcoin
Bitcoin masih kesulitan kembali ke area di atas US$90.000 setelah sempat mengalami tekanan tajam. Pergerakan ini ikut menahan aset kripto besar lain seperti Ethereum (ETH) yang tertahan di bawah US$3.000, BNB di bawah US$900, serta XRP yang belum mampu menembus US$1,9.
Namun, di tengah stagnasi aset utama, sejumlah altcoin justru menunjukkan kekuatan relatif. Axie Infinity mencatat pemulihan harga yang agresif, Hyperliquid melonjak seiring open interest HIP-3 yang menyentuh rekor tertinggi, sementara Pump.fun mengalami lonjakan harga hingga mencapai area teknikal krusial.
Pergerakan ini memperlihatkan adanya minat spekulatif pada altcoin tertentu, meski belum mencerminkan penguatan pasar secara menyeluruh.
Struktur Pasar Altcoin Mulai Kehilangan Arah
Di balik penguatan selektif tersebut, struktur pasar altcoin justru memperlihatkan sinyal yang kurang solid. Tren naik jangka panjang yang terbentuk sejak 2023 telah ditembus ke bawah, mengubah karakter pergerakan harga.
Area support utama yang sebelumnya menjadi pijakan akumulasi kini beralih fungsi menjadi resistance. Setiap upaya pemulihan harga cenderung berakhir dengan penolakan, menandakan dominasi penjual di level atas.
Kondisi ini membuat reli altcoin saat ini lebih menyerupai uji ketahanan resistance dibandingkan awal fase bullish baru. Jika gagal merebut kembali area tersebut dalam waktu dekat, risiko pelemahan lanjutan tetap terbuka.
Likuiditas Stablecoin Menyusut, Risiko Masih Mengintai
Sinyal kehati-hatian juga datang dari data on-chain. Berdasarkan pemantauan Santiment, kapitalisasi pasar gabungan 12 stablecoin terbesar turun sekitar US$2,24 miliar dalam 10 hari terakhir, atau sekitar 0,8% hingga 26 Januari 2026.
Penurunan suplai stablecoin menjadi perhatian penting karena aset ini berperan sebagai sumber likuiditas utama untuk perdagangan altcoin. Ketika pasokan menyusut, indikasinya bukan rotasi internal antar aset kripto, melainkan arus dana yang keluar dari pasar berisiko.
Pada saat yang sama, meningkatnya alokasi dana ke emas dan perak memperkuat sinyal risk-off, membatasi ruang gerak altcoin untuk mencetak reli luas.
Altseason Masih Jauh dari Kepastian
Kombinasi pelemahan momentum, menyusutnya likuiditas stablecoin, serta pergeseran dana ke aset defensif membuat peluang terjadinya altseason penuh dalam waktu dekat masih terbatas.
Tom Lee, Chairman Bitmine, menilai reli berbasis FOMO di emas dan perak telah menyedot likuiditas yang sebelumnya mengalir ke pasar kripto. Menurutnya, ketika minat terhadap aset lindung nilai mereda, dana berpotensi kembali ke Bitcoin dan Ethereum.
Namun, kembalinya likuiditas ke aset utama tidak otomatis memicu altseason. Sepanjang 2026, pasar lebih berpotensi diwarnai reli bergilir, di mana hanya altcoin tertentu yang mencatat penguatan signifikan dalam periode terbatas, bukan lonjakan serempak di seluruh pasar.