Harga Bitcoin (BTC) terkoreksi dari sekitar $124.000 ke area rendah $60.000-an, memicu kekhawatiran di pasar.
Namun data on-chain terbaru menunjukkan penurunan ini lebih didorong oleh kepanikan investor jangka pendek, bukan aksi jual besar-besaran dari pemegang lama.
Laporan CryptoQuant mencatat adanya perbedaan mencolok antara perilaku short-term holders (STH) dan long-term holders (LTH) selama koreksi berlangsung.
Divergensi ini menjadi kunci memahami apakah pasar sedang runtuh atau hanya mengalami reset siklus.
Pada puncak Oktober, investor jangka pendek merealisasikan keuntungan besar. Dalam satu minggu, lebih dari $8,3 miliar profit mengalir ke bursa.
Kini situasinya berbalik. Pada Rabu (11/2), sekitar $399 juta BTC disetor dalam kondisi rugi, dan dalam beberapa hari terakhir, hingga 99% setoran STH berada di bawah harga beli.
Kondisi ini disebut kapitulasi, yaitu aksi jual karena panik saat harga turun tajam. Namun skalanya masih lebih kecil dibanding tekanan sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada Agustus 2024, pasar mencatat sekitar $1,5 miliar kerugian terealisasi dalam satu hari. Artinya, meski rasa takut meningkat, tekanan saat ini belum masuk kategori ekstrem secara historis.
Long-Term Holder Tetap Tenang
Berbeda dengan STH, pemegang jangka panjang menunjukkan sikap lebih stabil. Saat STH mencatat kerugian hampir $399 juta pada Rabu (11/2), LTH hanya memindahkan sekitar $23,8 juta dalam kondisi rugi.
Pada periode stres awal 2024, LTH sempat merealisasikan lebih dari $225 juta kerugian dalam satu kejadian. Skala saat ini jauh lebih rendah.
Dilansir dari ETHNews, sebagian besar koin milik LTH juga masih berada dalam posisi untung. Ini menandakan mereka tidak terburu-buru melepas aset meski harga turun hampir $57.000 dari puncaknya.
Perbedaan perilaku ini penting karena dalam siklus bearish panjang, biasanya LTH ikut menyerah. Hingga kini, pola tersebut belum terlihat.