Pemerintah Jepang pada 20 Februari 2026 mengajukan tiga rancangan undang-undang fiskal ke parlemen yang mengunci kebijakan belanja besar dan pembiayaan defisit melalui utang.
Dalam dokumen anggaran 2026, total belanja ditetapkan sebesar ¥122,3 triliun atau sekitar Rp13.330 triliun, setara US$793 miliar.
Sementara itu, proyeksi penerimaan pajak hanya mencapai ¥83,7 triliun atau sekitar Rp9.123 triliun. Kekurangan anggaran sebesar ¥29,6 triliun atau sekitar Rp3.226 triliun akan ditutup melalui penerbitan obligasi pemerintah baru.
Data yang sama menunjukkan biaya pembayaran utang mencapai ¥31,3 triliun atau sekitar Rp3.412 triliun, pertama kalinya melampaui ambang ¥30 triliun.
Rasio utang Jepang kini berada di kisaran 250% terhadap produk domestik bruto (PDB), tertinggi di antara negara maju.
Tekanan ke BOJ dan Risiko Jangka Pendek untuk Bitcoin
Kebijakan fiskal ekspansif ini meningkatkan tekanan terhadap Bank of Japan (BOJ). Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada April 2026. Beberapa analis bahkan memperkirakan hingga tiga kali kenaikan sepanjang tahun ini.
Dampaknya terhadap Bitcoin (BTC) bukan sekadar teori. Setiap kenaikan suku bunga BOJ sejak Maret 2024 diikuti koreksi tajam harga BTC:
Maret 2024: Bitcoin turun sekitar 23%
Juli 2024: turun 26%
Januari 2025: turun 31%
Mekanismenya terkait yen carry trade. Selama bertahun-tahun, investor global meminjam yen berbunga rendah untuk membeli aset berisiko, termasuk kripto.
Ketika suku bunga Jepang naik dan yen menguat, posisi leverage tersebut dibongkar secara cepat. Pasar kripto yang beroperasi 24 jam biasanya menyerap tekanan pertama.
Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$67.000, turun lebih dari 47% dari rekor tertinggi Oktober 2025 di US$126.198. Pemegang ETF Bitcoin di Amerika Serikat juga tercatat berada dalam posisi rugi sekitar 20% secara rata-rata dengan biaya masuk di kisaran US$84.000.
Kenaikan suku bunga BOJ berikutnya berpotensi memperkuat tekanan jual, terutama jika imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun kembali mendekati atau melampaui 3%.