Bitcoin (BTC) disebut berpotensi rebound hingga US$85.000 setelah sejumlah analis menyoroti kemunculan pola teknikal triple bottom di tengah konsolidasi harga yang ketat. Proyeksi tersebut muncul saat sentimen pasar berada di level ketakutan ekstrem.
Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di US$65.346, naik sekitar 3% dalam 24 jam terakhir. Namun secara mingguan, BTC masih melemah hampir 6%, mencerminkan tekanan jual yang belum sepenuhnya reda.
Meski harga masih bergerak sideways, sejumlah indikator teknikal mulai menarik perhatian pasar.
Analis MartyParty juga menyoroti pola double bottom pada ETF teknologi BlackRock (IGV). Ia menyebut korelasi historis antara Bitcoin dan indeks tersebut mencapai 0,92.
Jika pola pada pasar ekuitas tersebut terealisasi ke atas, proyeksi harga Bitcoin dapat mengarah ke kisaran US$84.000 hingga US$85.000.
Korelasi ini menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini turut dipengaruhi dinamika saham teknologi, bukan hanya faktor internal pasar kripto.
Sentimen pasar turut menjadi sorotan. Fear & Greed Index Bitcoin sempat turun ke angka 5, yang masuk kategori Extreme Fear. Level ini tergolong sangat rendah dan jarang terjadi.
Sejumlah analis membandingkan kondisi tersebut dengan periode akhir 2018, crash Maret 2020, serta fase koreksi besar pada 2022. Pada periode-periode tersebut, sentimen ekstrem muncul mendekati fase dasar sebelum terjadi pemulihan signifikan.
Meski begitu, kondisi ketakutan ekstrem tidak otomatis menjamin pembalikan harga dalam waktu dekat.