Harga Bitcoin kembali menguat ke level USD 68.000 setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan sekitar 4% pada Kamis ini dipicu sentimen positif pasar menyusul pidato State of the Union oleh Donald Trump.
Mengutip laporan dari CryptoPotato, Jumat (27/2/2026), meski mengalami rebound, pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi defensif. Harga tercatat bergerak di rentang USD 60.000–69.000, yang saat ini dianggap sebagai zona permintaan utama.
Analis dari Glassnode menilai pasar kripto memang mulai stabil, namun belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Saat ini, Bitcoin masih berada sekitar 46% di bawah rekor tertingginya (all-time high)—kondisi yang secara historis sering terjadi pada fase pertengahan hingga akhir pasar bearish.
Data on-chain menunjukkan sekitar 9,2 juta BTC masih berada dalam posisi rugi, atau hampir setengah dari total suplai yang beredar. Situasi ini menyerupai fase akhir bear market sebelumnya, meski belum cukup kuat untuk mengindikasikan pembalikan tren.
Likuiditas Tertekan, Akumulasi Masih Lemah
Meski banyak investor mengalami kerugian belum terealisasi, aktivitas akumulasi masih minim. Indikator Accumulation Trend Score bertahan di bawah 0,5 sejak awal Februari, menandakan rendahnya minat beli dari investor besar.
Tekanan likuiditas juga meningkat. Rasio Realized Profit/Loss 90 hari turun di bawah level 1,0, menunjukkan kerugian yang direalisasikan lebih dominan dibandingkan keuntungan. Kondisi ini berpotensi memperpanjang fase konsolidasi pasar.
Di pasar derivatif, funding rate perpetual kembali ke level netral. Hal ini menandakan berkurangnya spekulasi berlebihan, namun juga menunjukkan belum munculnya sentimen bullish baru. PULSASLOT
Kesimpulan
Meski harga Bitcoin berhasil rebound ke USD 68.000, berbagai indikator on-chain dan off-chain menegaskan bahwa pemulihan pasar kripto masih belum sepenuhnya terbentuk. Investor pun diimbau tetap waspada terhadap volatilitas dan tekanan lanjutan.