Selama lebih dari dua dekade, Jepang menghadapi situasi yang tidak biasa bagi negara maju. Harga-harga tidak naik, konsumsi lemah, pertumbuhan ekonomi berjalan lambat, dan masyarakat cenderung menahan belanja karena ekspektasi harga akan tetap stagnan. Kondisi ini dikenal sebagai deflasi berkepanjangan, dan bagi Jepang, fase tersebut bukan hanya siklus singkat, melainkan periode panjang yang membentuk struktur ekonominya sejak runtuhnya gelembung aset pada awal 1990-an. Untuk memahami dampaknya lebih dalam, kamu bisa membaca penjelasan lengkap tentang deflasi dalam konteks ekonomi modern.
Di tengah situasi itu, pada 2012, Perdana Menteri Shinzo Abe memperkenalkan kebijakan besar yang kemudian dikenal sebagai Abenomics. Abenomics adalah rangkaian kebijakan ekonomi Jepang yang dirancang untuk mengakhiri deflasi dan menghidupkan kembali pertumbuhan melalui tiga pendekatan utama yang disebut “Tiga Panah”. Sejak saat itu, istilah ini bukan hanya menjadi kebijakan nasional, tetapi juga eksperimen ekonomi yang diperhatikan investor global.
Namun pertanyaan pentingnya bukan hanya apa itu Abenomics, melainkan apakah strategi ini benar-benar berhasil, dan bagaimana dampaknya terhadap iklim investasi hingga 2026.
Apa Itu Abenomics?
Untuk memahami keseluruhan gambaran, kamu perlu mulai dari definisinya terlebih dahulu. Abenomics adalah strategi ekonomi yang diperkenalkan oleh Shinzo Abe pada akhir 2012 dengan tujuan utama menghentikan deflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jepang yang stagnan. Strategi ini dikenal luas karena pendekatannya yang agresif dan terkoordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, serta reformasi struktural.
Inti dari Abenomics terletak pada konsep “Tiga Panah”. Tiga panah ini bukan sekadar slogan politik, melainkan kerangka kebijakan yang mencakup pelonggaran moneter besar-besaran oleh Bank of Japan, stimulus fiskal melalui belanja pemerintah, dan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekonomi Jepang dalam jangka panjang.
Pada tahap awal implementasinya, Abenomics langsung memicu respons pasar. Nilai tukar yen melemah, pasar saham Jepang bergerak naik, dan ekspektasi inflasi mulai berubah. Namun untuk memahami mengapa kebijakan ini dianggap radikal, kamu perlu melihat kondisi Jepang sebelum 2012.