Harga Bitcoin (BTC) sempat anjlok ke level terendah dalam beberapa pekan sebelum akhirnya pulih cepat, di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang melibatkan kelompok Houthi dan Iran.
Data terbaru menunjukkan BTC turun hingga $64.955, lalu rebound ke sekitar $67.843 saat pasar Asia mulai dibuka. Pergerakan ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap ketegangan geopolitik yang kian meluas.
Bitcoin Drop ke $65K, Lalu Langsung Diserap Buyer
Penurunan tajam terjadi setelah muncul kabar bahwa konflik memasuki fase baru. Keterlibatan Houthi yang didukung Iran membuka front tambahan di luar ketegangan utama antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Pasar langsung merespons dengan aksi jual. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Di level sekitar $65.000, buyer mulai masuk secara agresif. Area ini menjadi titik support penting yang terakhir diuji pada awal konflik beberapa pekan lalu.
Hasilnya, harga Bitcoin dengan cepat berbalik arah dan kembali ke atas $67.000 pada Senin (30/3), terhitung cukup singkat.
Eskalasi Konflik Picu Guncangan Pasar Global
Masuknya Houthi ke dalam konflik memperluas ketidakpastian di pasar global. Situasi semakin memanas dengan tambahan pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Di sisi lain, laporan menyebutkan adanya rencana operasi militer terhadap fasilitas nuklir Iran, meski belum ada keputusan final.
Ketegangan ini juga berdampak langsung ke sektor komoditas. Iran dilaporkan menyerang fasilitas produksi aluminium, mendorong harga logam tersebut naik hingga sekitar 6%.
Sementara itu, harga minyak Brent melonjak ke kisaran $115 per barel, naik signifikan sepanjang tahun ini.
Pasar saham Asia pun ikut terpukul, dengan indeks utama di Jepang dan Korea Selatan mencatat penurunan tajam.