Ketegangan di Selat Hormuz memunculkan narasi baru di pasar kripto. Bitcoin disebut digunakan sebagai alat pembayaran dalam jalur minyak strategis, memicu perbandingan langsung dengan XRP dalam sistem keuangan global.
Meski belum ada bukti on-chain yang terverifikasi, sentimen ini langsung berdampak ke pasar.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.
Dalam laporan terbaru, disebutkan adanya permintaan biaya sekitar $1 per barel, dengan pembayaran dalam bentuk Bitcoin atau yuan.
Untuk satu kapal tanker besar, biaya ini bisa mencapai sekitar $2 juta atau setara 281 BTC.
Kondisi ini membuat Bitcoin dipandang sebagai alat pembayaran netral yang bisa digunakan di luar sistem keuangan tradisional.
Terlepas dari kontroversi, narasi Bitcoin mengalami pergeseran.
Awalnya dikenal sebagai alat pembayaran ritel, lalu berkembang menjadi penyimpan nilai, kini mulai dilihat sebagai alat settlement global dalam kondisi krisis.
Konsep seperti “neutral settlement” dan “borderless money” semakin sering dikaitkan dengan Bitcoin.
Hal ini terlihat dari kemampuannya beroperasi tanpa bergantung pada sistem perbankan atau jaringan seperti SWIFT.
Kenaikan harga Bitcoin kembali di atas $70.000 juga menunjukkan pasar merespons narasi ini secara positif.