Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

5 Sinyal Ekonomi yang Dinilai Bisa Picu Bull Run Kripto di Awal 2026

Posted on January 2, 2026

Sejumlah analis mulai menyoroti awal 2026 sebagai fase penting bagi pasar kripto. Fokusnya bukan pada sentimen jangka pendek, melainkan pada perubahan besar di sisi makroekonomi global, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Kombinasi kebijakan The Fed, dinamika likuiditas, hingga faktor politik dinilai bisa membuka ruang bagi reli baru aset digital.

Berikut lima sinyal ekonomi utama yang dinilai berpotensi memicu bull run kripto di kuartal pertama 2026.

1. The Fed Menghentikan Pengetatan Likuiditas

Salah satu sinyal terkuat datang dari berakhirnya kebijakan quantitative tightening (QT) The Fed. Sepanjang 2025, QT menjadi tekanan besar bagi pasar keuangan karena menyerap likuiditas dari sistem.

Dengan dihentikannya QT, tekanan tersebut otomatis berkurang. Secara historis, fase ketika bank sentral berhenti memperkecil neraca sering kali diikuti pemulihan aset berisiko. 

Beberapa analis mencatat Bitcoin (BTC) pernah mencatat kenaikan signifikan setelah fase kontraksi likuiditas berakhir.

Analis makro Benjamin Cowen menilai dampak penghentian QT baru akan terasa penuh pada awal 2026, seiring berjalannya transmisi kebijakan moneter ke pasar.

2. Peluang Penurunan Suku Bunga Kembali Terbuka

The Fed telah mulai memangkas suku bunga, dan proyeksi Goldman Sachs menunjukkan ruang lanjutan untuk penurunan hingga kisaran 3 hingga 3,25 % pada 2026.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan selera risiko investor. Biaya pinjaman menurun, likuiditas meningkat, dan aset spekulatif seperti kripto menjadi lebih menarik dibanding instrumen berimbal hasil tetap.

Bagi pasar kripto, perubahan arah kebijakan ini sering menjadi katalis penting karena berdampak langsung pada aliran modal global.

3. Likuiditas Jangka Pendek Mulai Dijaga Ketat

The Fed juga mulai melakukan pembelian Treasury bill jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasar uang. 

Langkah ini bertujuan memastikan pasokan likuiditas tetap cukup dan suku bunga jangka pendek tidak menyimpang dari target.

Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat teknis, bukan quantitative easing. Namun, secara praktik, langkah tersebut tetap menambah likuiditas jangka pendek ke sistem keuangan.

Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan likuiditas jangka pendek terlihat dari meningkatnya kas di money market fund, pengetatan penerbitan T-bill, dan lonjakan permintaan musiman. 

Upaya The Fed meredam tekanan ini dinilai bisa menjadi angin segar bagi aset berisiko, termasuk kripto.

4. Insentif Politik Menjelang Pemilu AS

Faktor politik turut menjadi sorotan. Menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026, pemerintah memiliki insentif kuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Peneliti makro Thorsten Froehlich menilai pelemahan pasar saham atau aset berisiko sebelum pemilu bisa berdampak langsung pada kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang berkuasa. 

Kondisi ini membuat risiko kebijakan mendadak atau langkah ekstrem menjadi relatif lebih kecil. Lingkungan kebijakan yang stabil cenderung mendukung kepercayaan investor, termasuk di pasar kripto.

5. Pelemahan Data Tenaga Kerja Bisa Jadi Pemicu Dovish

Data tenaga kerja yang mulai melunak sering kali dianggap negatif bagi ekonomi riil. Namun bagi pasar keuangan, kondisi ini justru bisa mendorong The Fed mengambil sikap lebih dovish.

Pelemahan pasar tenaga kerja meningkatkan tekanan agar kebijakan moneter dilonggarkan. Dampaknya, likuiditas berpotensi kembali mengalir dan mendukung aset berisiko.

Bagi kripto, pola ini bukan hal baru. Beberapa reli besar sebelumnya justru muncul ketika bank sentral mulai merespons perlambatan ekonomi dengan pelonggaran kebijakan.

Analis Mulai Angkat Suara, Optimisme Pasar Kripto Perlahan Muncul

Sejumlah pelaku industri mulai menyuarakan pandangan optimistis. Kepala Riset CoinMarketCap, Alice Liu, memproyeksikan pemulihan pasar kripto pada Februari hingga Maret 2026, seiring membaiknya indikator makro.

Sementara itu, beberapa komentator kripto bahkan menyebut potensi harga Bitcoin berada di kisaran US$300.000 hingga US$600.000. Meski demikian, proyeksi tersebut mencerminkan sentimen, bukan kepastian pasar.

Saat ini, partisipasi pasar masih relatif terbatas. Open interest Bitcoin tercatat menurun, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar. 

Namun jika sinyal makro tersebut benar-benar terwujud, fase konsolidasi berpotensi berubah menjadi reli signifikan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Harga HBAR Mempertahankan Struktur Bearish Meskipun Pembelian ETF Institusional Tetap Stabil
  • Solana Price Mengincar Dukungan Level $78 Saat Level Fibonacci dan Struktur Pasar Selaras
  • Analis Mengantisipasi Konsolidasi Bitcoin dan Menunjukkan Potensi Terobosan 15% Seiring Penyempitan Pola Segitiga.
  • Para Pendiri Neo Berselisih Soal Pengendalian dan Transparansi Keuangan
  • Ini Deretan Altcoin Paling Tekor di 2025

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme