Sejumlah analis mulai menyoroti awal 2026 sebagai fase penting bagi pasar kripto. Fokusnya bukan pada sentimen jangka pendek, melainkan pada perubahan besar di sisi makroekonomi global, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat.
Kombinasi kebijakan The Fed, dinamika likuiditas, hingga faktor politik dinilai bisa membuka ruang bagi reli baru aset digital.
Berikut lima sinyal ekonomi utama yang dinilai berpotensi memicu bull run kripto di kuartal pertama 2026.
1. The Fed Menghentikan Pengetatan Likuiditas
Salah satu sinyal terkuat datang dari berakhirnya kebijakan quantitative tightening (QT) The Fed. Sepanjang 2025, QT menjadi tekanan besar bagi pasar keuangan karena menyerap likuiditas dari sistem.
Dengan dihentikannya QT, tekanan tersebut otomatis berkurang. Secara historis, fase ketika bank sentral berhenti memperkecil neraca sering kali diikuti pemulihan aset berisiko.
Beberapa analis mencatat Bitcoin (BTC) pernah mencatat kenaikan signifikan setelah fase kontraksi likuiditas berakhir.
Analis makro Benjamin Cowen menilai dampak penghentian QT baru akan terasa penuh pada awal 2026, seiring berjalannya transmisi kebijakan moneter ke pasar.
2. Peluang Penurunan Suku Bunga Kembali Terbuka
The Fed telah mulai memangkas suku bunga, dan proyeksi Goldman Sachs menunjukkan ruang lanjutan untuk penurunan hingga kisaran 3 hingga 3,25 % pada 2026.
Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan selera risiko investor. Biaya pinjaman menurun, likuiditas meningkat, dan aset spekulatif seperti kripto menjadi lebih menarik dibanding instrumen berimbal hasil tetap.
Bagi pasar kripto, perubahan arah kebijakan ini sering menjadi katalis penting karena berdampak langsung pada aliran modal global.
3. Likuiditas Jangka Pendek Mulai Dijaga Ketat
The Fed juga mulai melakukan pembelian Treasury bill jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasar uang.
Langkah ini bertujuan memastikan pasokan likuiditas tetap cukup dan suku bunga jangka pendek tidak menyimpang dari target.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat teknis, bukan quantitative easing. Namun, secara praktik, langkah tersebut tetap menambah likuiditas jangka pendek ke sistem keuangan.
Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan likuiditas jangka pendek terlihat dari meningkatnya kas di money market fund, pengetatan penerbitan T-bill, dan lonjakan permintaan musiman.
Upaya The Fed meredam tekanan ini dinilai bisa menjadi angin segar bagi aset berisiko, termasuk kripto.
4. Insentif Politik Menjelang Pemilu AS
Faktor politik turut menjadi sorotan. Menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026, pemerintah memiliki insentif kuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Peneliti makro Thorsten Froehlich menilai pelemahan pasar saham atau aset berisiko sebelum pemilu bisa berdampak langsung pada kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang berkuasa.
Kondisi ini membuat risiko kebijakan mendadak atau langkah ekstrem menjadi relatif lebih kecil. Lingkungan kebijakan yang stabil cenderung mendukung kepercayaan investor, termasuk di pasar kripto.
5. Pelemahan Data Tenaga Kerja Bisa Jadi Pemicu Dovish
Data tenaga kerja yang mulai melunak sering kali dianggap negatif bagi ekonomi riil. Namun bagi pasar keuangan, kondisi ini justru bisa mendorong The Fed mengambil sikap lebih dovish.
Pelemahan pasar tenaga kerja meningkatkan tekanan agar kebijakan moneter dilonggarkan. Dampaknya, likuiditas berpotensi kembali mengalir dan mendukung aset berisiko.
Bagi kripto, pola ini bukan hal baru. Beberapa reli besar sebelumnya justru muncul ketika bank sentral mulai merespons perlambatan ekonomi dengan pelonggaran kebijakan.
Analis Mulai Angkat Suara, Optimisme Pasar Kripto Perlahan Muncul
Sejumlah pelaku industri mulai menyuarakan pandangan optimistis. Kepala Riset CoinMarketCap, Alice Liu, memproyeksikan pemulihan pasar kripto pada Februari hingga Maret 2026, seiring membaiknya indikator makro.
Sementara itu, beberapa komentator kripto bahkan menyebut potensi harga Bitcoin berada di kisaran US$300.000 hingga US$600.000. Meski demikian, proyeksi tersebut mencerminkan sentimen, bukan kepastian pasar.
Saat ini, partisipasi pasar masih relatif terbatas. Open interest Bitcoin tercatat menurun, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar.
Namun jika sinyal makro tersebut benar-benar terwujud, fase konsolidasi berpotensi berubah menjadi reli signifikan.