Stani Kulechov, pendiri dan CEO Aave Labs, menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun kunci bagi adopsi DeFi. Industri ini semakin mendekati pengguna umum melalui antarmuka yang ramah pengguna seperti Aplikasi Aave. Menurut Kulechov, integrasi fintech dengan fitur DeFi yang tertanam akan semakin memperluas akses bagi pengguna sehari-hari di seluruh dunia.
Kolten, seorang kontributor di Aave, melaporkan bahwa total nilai terkunci (TVL) DeFi mencapai puncaknya pada $204 miliar pada akhir tahun 2021. Setelah gangguan pasar, nilai tersebut pulih menjadi $225 miliar pada Oktober 2025. Meskipun peningkatannya tergolong kecil, hal ini menunjukkan minat yang berkelanjutan di kalangan para pencinta kripto dan pengadopsi awal.
Kolten mencatat bahwa jumlah pengguna saja tidak cukup untuk mendorong ekspansi yang signifikan. Stablecoin telah memainkan peran utama dalam menjaga likuiditas on-chain. USDT dan USDC bersama-sama memegang lebih dari $260 miliar, melampaui TVL DeFi.
Stablecoin yang menghasilkan imbal hasil kini bernilai lebih dari $20 miliar, dengan produk seperti sUSDS dan sUSDe semakin populer. Integrasi aset dunia nyata (RWA) juga menyediakan imbal hasil on-chain yang didukung oleh instrumen keuangan tradisional, meskipun adopsinya masih terkonsentrasi di kalangan investor besar (whale).
Kolten menekankan bahwa pengguna ritel sebagian besar tidak hadir di DeFi, meskipun aplikasi fintech mengelola triliunan dolar secara global. Neobank seluler memegang lebih dari $2,4 triliun, menyoroti audiens yang sangat besar dan belum dimanfaatkan untuk produk-produk penghasil imbal hasil. Protokol yang sukses pada tahun 2025, termasuk Aave, Ethena Labs , dan Pendle, menarik modal yang signifikan, menunjukkan bahwa permintaan pengguna ada ketika produk-produk tersebut mudah diakses.