Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan memicu kekhawatiran akan konflik berskala besar.
Eskalasi di Eropa Timur, tekanan di kawasan Indo-Pasifik, serta manuver politik negara-negara besar membuat isu Perang Dunia III kembali mencuat di pasar global.
Situasi ini langsung memengaruhi sentimen investor, termasuk di pasar kripto. Bitcoin (BTC), yang kerap diposisikan sebagai alternatif aset lindung nilai, berada di titik krusial.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam fase awal krisis geopolitik, pergerakan Bitcoin sering kali dipengaruhi tekanan likuiditas sebelum narasi lindung nilai kembali diuji.
Reaksi Awal Pasar: Bitcoin Cenderung Tertekan
Dalam fase awal krisis geopolitik, pasar keuangan umumnya bereaksi defensif. Investor global meningkatkan likuiditas, memangkas leverage, dan mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko tinggi.
Pada fase ini, Bitcoin sering bergerak searah dengan aset berisiko lain. Tekanan jual muncul seiring penguatan dolar AS, pengetatan likuiditas, dan meningkatnya kebutuhan dana tunai.
Data historis menunjukkan bahwa dalam periode “shock awal”, Bitcoin kerap terkoreksi sebelum aset lain menemukan keseimbangan baru.
Kondisi ini menegaskan bahwa pada tahap awal krisis, pasar lebih memprioritaskan likuiditas dibandingkan narasi jangka panjang mengenai kelangkaan atau desentralisasi.