Perhatian pasar kripto selama ini banyak tertuju pada pergerakan harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Namun, di balik volatilitas tersebut, pergeseran yang lebih mendasar sedang terjadi.
Chainlink (LINK) mulai diposisikan sebagai infrastruktur kunci yang menopang adopsi kripto di level institusi, bukan sekadar aset yang diperdagangkan di pasar.
Peran Chainlink kini bergerak melampaui narasi spekulatif. Fokusnya bukan lagi pada siklus harga jangka pendek, melainkan pada kebutuhan sistem keuangan yang mulai terhubung dengan blockchain secara langsung.
Infrastruktur Jadi Fokus Baru Industri Kripto
Seiring regulasi kripto yang makin jelas di sejumlah yurisdiksi, terutama sepanjang 2025, institusi keuangan mulai masuk ke ekosistem blockchain dengan pendekatan yang lebih serius.
Melansir dari CaptainAltcoin, Bank, manajer aset, dan lembaga kliring tidak lagi sekadar melakukan uji coba, tetapi mulai mengintegrasikan blockchain ke dalam sistem operasional mereka.
Di titik inilah kebutuhan akan data yang akurat, terverifikasi, dan dapat diandalkan menjadi krusial. Smart contract tidak bisa berjalan hanya dengan kode, tetapi membutuhkan input data dunia nyata.
Chainlink berperan sebagai penghubung antara blockchain dan sistem eksternal tersebut melalui jaringan oracle terdesentralisasi.
Captain Altcoin menilai pergeseran ini sebagai perubahan dari fase eksperimen menuju fase integrasi. Blockchain tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang lebih luas.
Baca berikutnya: Standard Chartered: Ethereum Diprediksi Kalahkan Bitcoin di 2030
Peran Chainlink dalam Tokenisasi Aset
Tokenisasi aset menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya kebutuhan terhadap layanan Chainlink.
Saham, obligasi, properti, hingga instrumen pasar uang mulai diproyeksikan untuk direpresentasikan dalam bentuk token digital di blockchain.
Proses ini membutuhkan data harga, data kepemilikan, serta mekanisme settlement yang dapat diverifikasi.
Chainlink menyediakan lapisan data dan koordinasi yang memungkinkan aset-aset tersebut beroperasi di lingkungan blockchain tanpa mengorbankan kepercayaan dan transparansi.
Saat ini, sekitar 70% protokol DeFi diketahui menggunakan layanan Chainlink, dengan lebih dari 80% di antaranya berjalan di jaringan Ethereum.
Total nilai transaksi yang telah difasilitasi oleh jaringan Chainlink disebut telah melampaui puluhan triliun dolar, mencerminkan skala penggunaan yang bersifat struktural, bukan spekulatif.