Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan signifikan hingga sempat menyentuh level US$87.000 pada Rabu, 21 Januari 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian makro global. Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin turun sekitar 4 persen dalam 24 jam, sebelum pulih terbatas ke kisaran US$88.900. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di sekitar US$1,77 triliun.
Tekanan juga melanda aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) terkoreksi sekitar 7 persen ke level US$2.950, sementara XRP turun 3 persen. BNB dan Solana (SOL) masing-masing melemah sekitar 5 persen, mencerminkan tekanan yang merata di pasar kripto. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 3 persen menjadi US$3 triliun.
Pelemahan kripto terjadi seiring koreksi tajam pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun lebih dari 2 persen, menandai sesi terburuk sejak Oktober 2025. Saham-saham terkait kripto seperti Coinbase, Circle, dan Strategy juga mengalami penurunan signifikan.
Analis menilai tekanan ini dipicu oleh kombinasi ketidakpastian makro global, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta likuidasi posisi berleverage di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi kripto tercatat mencapai sekitar US$1,07 miliar, dengan mayoritas berasal dari posisi long.
Gejolak pasar turut diperparah oleh kondisi di Jepang, menyusul lonjakan tajam imbal hasil obligasi pemerintah. Situasi ini memicu aksi risk-off global, di mana investor melepas aset berisiko seperti saham dan kripto, sementara emas justru menguat. Ke depan, arah pasar dinilai akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan pasar obligasi Jepang dan hasil pemilu cepat Jepang pada awal Februari 2026.