Sebuah koin meme bertema AI yang dikaitkan dengan tren prompt “Ralph Wiggum” mengalami penurunan harga tajam setelah data on-chain mengungkap adanya aksi jual besar dalam waktu singkat. Peristiwa ini memicu perdebatan luas terkait kepemilikan token, insentif pengembang, serta tingkat kepercayaan terhadap proyek-proyek koin meme yang berbasis tren viral.
Platform analitik visual Bubblemaps menyebut bahwa penjualan tersebut berasal dari sebuah wallet yang dikaitkan dengan Geoffrey Huntley, sosok yang namanya sering diasosiasikan dengan narasi token RALPH. Aksi jual itu disebut menjadi pemicu utama anjloknya harga token dari level puncaknya.
Data Bubblemaps Ungkap Klaster Wallet Terkait
Dalam laporannya, Bubblemaps mengungkap bahwa wallet yang dikaitkan dengan Huntley melepas token RALPH melalui tiga transaksi terpisah dalam rentang sekitar satu jam. Aksi tersebut terjadi tepat di area puncak pergerakan harga dan dinilai berkontribusi signifikan terhadap tekanan jual.
Bubblemaps juga menilai wallet tersebut berada dalam klaster kecil pemegang token yang menguasai porsi tertentu dari total suplai. Selain itu, satu alamat lain yang masih terkait tercatat tetap memegang bagian suplai terpisah.
Tak lama setelahnya, sebuah wallet whale yang baru menerima pendanaan ikut melakukan penjualan dalam jumlah besar. Bubblemaps menyatakan akan terus memantau pergerakan lanjutan di jaringan untuk mengidentifikasi potensi tekanan jual tambahan.
Huntley Akui Penjualan, Sebut Langkah “De-risking”
Geoffrey Huntley kemudian mengakui adanya aksi jual tersebut melalui pernyataan publik. Ia menyebut penjualan itu sebagai langkah “de-risking”, seraya menegaskan bahwa dirinya masih memegang token RALPH.
“Saya memilih untuk menjual sebelum jendela vesting berikutnya, karena ingin menghindari skema transaksi over-the-counter (OTC) privat yang menurut saya akan menuntut diskon besar, namun tetap berdampak pada pasar,” ujar Huntley.
Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredam kritik. Sejumlah trader mempertanyakan timing dan metode penjualan, serta menilai ada opsi yang lebih ramah pasar, seperti menambah likuiditas ke liquidity pool untuk memperoleh fee sambil mengurangi posisi secara bertahap.
Perdebatan Soal Etika dan “Alignment” Komunitas
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar memberikan pembelaan dengan argumen bahwa ambil untung merupakan praktik yang lazim di pasar koin meme, yang dikenal bergerak cepat dan sering didorong oleh euforia jangka pendek.
Perdebatan semakin melebar ketika muncul tuduhan bahwa aksi jual tersebut merusak alignment komunitas. Sebagian pihak menilai, ketika token sudah terlanjur melekat pada figur atau narasi tertentu, aksi jual besar dapat menggerus kepercayaan pasar.
Namun, pihak lain menilai investor seharusnya sejak awal memahami risiko, termasuk kemungkinan pihak yang diasosiasikan dengan narasi token mengambil profit ketika peluang terbuka.
Huntley juga menegaskan bahwa dirinya tidak meluncurkan, mengendalikan, maupun memberikan persetujuan atas penciptaan token RALPH. Meski demikian, bagi sebagian holder, keterkaitan narasi publik tetap dianggap sebagai asosiasi implisit yang sulit dipisahkan—terutama di ekosistem koin meme yang kerap memonetisasi tren viral dan persepsi pasar.
Harga RALPH Tertekan, Sentimen Pasar Memburuk
Pada saat berita ini ditulis, RALPH diperdagangkan jauh di bawah level tertinggi terbarunya, dengan penurunan intraday yang signifikan. Kapitalisasi pasar token tersebut dilaporkan merosot tajam dari puncaknya, sementara volume perdagangan 24 jam bahkan melampaui kapitalisasi pasar, mengindikasikan volatilitas ekstrem.
Bubblemaps menilai pergerakan ini bersifat idiosinkratik atau spesifik pada token, bukan akibat guncangan pasar kripto secara luas. Insiden ini juga terjadi di tengah meningkatnya peringatan terkait maraknya token spekulatif berbasis lelucon dan tren viral.
Salah satu peringatan yang kembali disorot datang dari pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), yang sebelumnya mengingatkan bahwa token yang lahir dari candaan dan euforia sesaat sering kali berakhir merugikan banyak pihak.