Jakarta – Bitcoin (BTC) kembali melemah dan sempat turun ke kisaran US$ 88.460, memicu perhatian para trader jangka pendek yang menanti kelanjutan tekanan jual. Meski demikian, analis teknikal ternama Lennaert Snyder mengungkapkan bahwa ia memilih tidak membuka posisi pada penurunan kali ini karena satu alasan utama: set-up yang ia tunggu tidak terbentuk.
Menurut Snyder, pergerakan turun Bitcoin terjadi setelah harga melewati area likuiditas yang biasanya menjadi patokan utama dalam sistem trading miliknya. Ia menegaskan bahwa aturannya bersifat mutlak, yakni likuiditas harus tersapu terlebih dahulu, disusul break of structure berprobabilitas tinggi, baru eksekusi dilakukan.
Karena urutan tersebut tidak terjadi, Snyder memutuskan untuk menepi dari pasar sementara waktu.
“Dalam kasus ini artinya, tidak ada trigger, tidak ada trade,” ujar Snyder dalam pembaruan di media sosial X, Kamis (23/1/2026).
Bias Bearish Masih Terjaga
Snyder menekankan bahwa keputusan untuk tidak masuk pasar bukan berarti pandangan bearish-nya batal. Skenario short Bitcoin masih terbuka, namun ia memilih menunggu harga bergerak sesuai dengan sistemnya, bukan memaksakan entry tanpa konfirmasi yang lengkap.
Saat ini, Snyder menanti satu skenario spesifik. Jika Bitcoin kembali mendapat dorongan naik menuju area likuiditas di atas US$ 90.540, ia akan mulai mempertimbangkan posisi short setelah terjadi market structure break.
“Sebelum dump berakhir, memang ada sapuan likuiditas internal yang bisa jadi argumen bagi sebagian trader. Tapi bagi sistem saya, itu belum cukup kuat untuk dijadikan pemicu utama,” jelasnya.
Jika pergerakan yang ditunggu tidak terjadi dalam satu hingga dua hari ke depan, Snyder menyatakan ia siap membiarkan pasar bergerak tanpa dirinya dan kembali memantau peluang baru di awal pekan.
Wick Besar Jadi Sinyal Waspada
Sebelumnya, Snyder juga menyoroti bahwa Bitcoin masih berada dalam tren bearish, meski harga sementara mampu menahan level rendahnya. Salah satu faktor yang membuatnya waspada adalah munculnya wick besar pada timeframe 4 jam.
Menurutnya, wick seperti ini kerap menjadi “magnet likuiditas” yang berpotensi kembali ditarik pasar sebelum arah selanjutnya benar-benar terbentuk.
Dengan konteks tersebut, Snyder kini hanya fokus pada dua skenario utama, dengan bias yang masih condong ke arah bearish.
Target Short dan Skenario Long
Untuk skenario short, Snyder menunggu Bitcoin menyapu likuiditas di atas area resistensi sekitar US$ 90.600, lalu mencari entry setelah konfirmasi market structure break.
“Target yang saya incar berada di zona imbalance sekitar US$ 86.200. Area ini menjadi tujuan yang realistis jika tekanan jual berlanjut,” katanya.
Sementara itu, Snyder mengaku tidak terlalu tertarik membuka posisi long karena berarti melawan tren. Namun, ia tetap menyiapkan rencana cadangan jika pasar memberi sinyal kuat.
Skenario long baru akan dipertimbangkan jika terjadi reclaim H4 yang meyakinkan, terutama pada sesi New York, di atas resistensi sekitar US$ 91.200. Dalam kondisi tersebut, ia akan mulai mencari peluang dengan pendekatan membangun higher lows.
“Namun perlu dicatat, secara statistik, probabilitas skenario long saat ini masih tergolong rendah,” tegas Snyder.
Pasar “Madhouse”, Disiplin Jadi Kunci
Snyder menggambarkan pergerakan harga Bitcoin pekan ini sebagai ‘madhouse’, di mana volatilitas ekstrem membuat pasar tidak ramah bagi entry berkualitas. Ketegangan geopolitik disebut memicu pergerakan tajam yang kerap meninggalkan titik masuk ideal.
“Di minggu-minggu seperti ini, disiplin menjadi hal utama. Lebih baik menunggu set-up berkualitas alpha sesuai sistem, daripada memaksakan trade di kondisi yang tidak ideal,” pungkasnya.