Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

Bitcoin dan Ethereum Disebut ‘Heavy Shorted’, Pasar Waspada Volatilitas

Posted on January 24, 2026

Jakarta – Data terbaru dari BTCUSA menunjukkan bahwa pasar kripto saat ini condong kuat ke posisi short, dengan konsentrasi terbesar terlihat pada Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Kondisi ini menandakan banyak trader memasang taruhan lanjutan terhadap penurunan harga, sehingga struktur posisi pasar menjadi tidak seimbang.

Menurut analisis BTCUSA, ketimpangan ini penting untuk diperhatikan. Ketika posisi short menumpuk secara berlebihan, pasar menjadi jauh lebih sensitif terhadap pergerakan naik yang cepat. Jika Bitcoin bergerak naik dan melewati area tertentu di atas harga saat ini, peta likuidasi mengindikasikan potensi terjadinya gelombang likuidasi paksa pada posisi short berleverage.

Risiko Short Squeeze Meningkat

Dalam skenario tersebut, trader yang berada di posisi short akan dipaksa menutup posisi rugi, sehingga memicu aksi beli secara bersamaan. Pembelian penutupan ini dapat mempercepat kenaikan harga dan menciptakan efek domino yang dikenal sebagai short squeeze.

Pola serupa juga terlihat pada Ethereum. BTCUSA menilai bahwa volume posisi short ETH yang rentan likuidasi cukup signifikan, terutama jika harga bergerak cepat menuju level-level tertentu yang ditandai pada peta likuidasi.

Artinya, cukup satu dorongan kuat—baik dari arus dana masuk, kabar positif, maupun breakout teknikal—untuk memicu volatilitas yang jauh lebih besar dibanding kondisi pasar normal.

Peta Likuidasi Bukan Ramalan Harga

Meski demikian, BTCUSA menegaskan bahwa peta likuidasi bukanlah ramalan bahwa reli harga pasti akan terjadi. Peta tersebut lebih tepat dibaca sebagai penanda zona rawan, yakni area harga di mana pergerakan dapat membesar karena banyak posisi leverage berada dalam bahaya.

Arah pergerakan harga selanjutnya tetap ditentukan oleh kombinasi volume perdagangan, katalis pasar, serta respons pelaku pasar ketika level-level kunci tersebut disentuh.

Untuk saat ini, fokus utama analis berada pada “ambang” di atas harga terkini, baik pada Bitcoin maupun Ethereum. Jika ambang tersebut berhasil ditembus dengan volume yang memadai, pasar berpotensi masuk ke fase pergerakan tajam akibat likuidasi berantai.

Sebaliknya, jika tidak ada katalis kuat dan volume tidak mendukung, penumpukan posisi short bisa bertahan lebih lama tanpa memicu short squeeze.

Faktor Geopolitik Tekan Sentimen

BTCUSA juga mencatat bahwa banyak investor dan trader kripto saat ini mengambil posisi bearish karena meningkatnya kekhawatiran terhadap geopolitik global. Kebijakan Amerika Serikat yang memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara sekutu, serta wacana ambisi Donald Trump terkait Greenland, dinilai menambah ketidakpastian pasar.

Ketegangan geopolitik tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi risiko dan memilih posisi defensif, termasuk memasang short pada aset kripto utama.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Bitcoin Kembali Jauh dari US$ 100.000 Setelah Koreksi Akhir Pekan
  • Ini yang Jadi Kekahwatiran Pelaku di Industri Kripto Jika Donald Trump Tak Lagi Menjabat
  • Bitcoin dan Ethereum Disebut ‘Heavy Shorted’, Pasar Waspada Volatilitas
  • Koreksi Bitcoin Lebih Mirip 2019, Bukan Bear Market 2018 atau 2022
  • Ledger Bersiap IPO Saat Perusahaan Kripto Mengincar Pasar Publik

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme