Selama ini, pembahasan stablecoin hampir selalu berputar di satu poros yang sama: dolar Amerika Serikat. USDT dan USDC menjadi standar tidak tertulis dalam ekosistem kripto, baik untuk perdagangan, penyimpanan nilai, maupun pengiriman dana lintas negara. Dominasi ini membuat banyak orang mengira bahwa stablecoin memang identik dengan dolar, seolah tidak ada pilihan lain yang relevan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola tersebut mulai bergeser. Di luar Amerika Serikat, muncul kebutuhan yang tidak sepenuhnya terjawab oleh stablecoin berbasis USD. Biaya konversi, ketergantungan pada sistem keuangan tertentu, hingga kebutuhan pembayaran lokal mendorong munculnya stablecoin yang nilainya dipatok ke mata uang selain dolar. Dari Eropa hingga Asia, dari Amerika Latin hingga Afrika, stablecoin non-USD mulai mendapatkan ruangnya sendiri.
Perubahan ini bukan sekadar variasi produk, melainkan cerminan dari dinamika sistem keuangan global yang sedang mencari bentuk baru di era digital.
Apa yang Dimaksud dengan Non-USD Stablecoins
Non-USD stablecoins adalah stablecoin berbasis fiat yang nilainya mengikuti mata uang fiat selain dolar Amerika Serikat. Token ini dirancang agar mencerminkan nilai mata uang tertentu, seperti euro, yen, atau mata uang lokal lainnya, dengan tujuan menjaga stabilitas nilai saat digunakan di jaringan blockchain.
Secara mekanisme, konsepnya mirip dengan stablecoin berbasis dolar. Ada cadangan aset, ada sistem penerbitan, dan ada upaya menjaga nilai tetap seimbang. Perbedaannya terletak pada konteks penggunaan. Stablecoin non-USD hadir untuk menjawab kebutuhan pengguna di wilayah yang aktivitas ekonominya tidak berpusat pada dolar, baik dalam transaksi domestik maupun lintas negara.
Pemahaman ini penting karena tanpa konteks tersebut, sulit melihat mengapa banyak negara dan pelaku industri mulai memberikan perhatian lebih pada stablecoin non-USD.