Survei terbaru mencatat bahwa kepemilikan aset kripto investor Indonesia sepanjang 2025 masih terkonsentrasi pada aset berkapitalisasi besar.
Bitcoin (BTC), USDT, Solana (SOL), Ethereum (ETH), dan BNB Chain (BNB) menjadi lima aset kripto yang paling banyak dimiliki oleh investor lokal.
Data tersebut berasal dari Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, laporan kolaboratif Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).
Survei ini melibatkan 1.851 responden dari berbagai kelompok usia dan wilayah di Indonesia, dengan fokus pada kepemilikan aset kripto, bukan aktivitas transaksi.
Laporan ini menunjukkan bahwa sebagian besar investor Indonesia menempatkan aset kripto mapan sebagai basis portofolio, sementara aset berisiko tinggi belum menjadi pilihan utama.
1. Bitcoin Tetap Mendominasi Kepemilikan
Bitcoin berada di posisi teratas dengan porsi kepemilikan sekitar 45%–47%. Angka ini menegaskan peran Bitcoin sebagai aset inti dalam portofolio investor Indonesia.
Status Bitcoin sebagai aset kripto pertama, suplai yang terbatas, serta likuiditas tinggi membuatnya masih dipilih sebagai penyimpan nilai jangka panjang.
Kepemilikan yang dominan juga mencerminkan kecenderungan investor untuk menghindari volatilitas ekstrem.
2. USDT Menjadi Instrumen Bertahan di Pasar
USDT menempati peringkat kedua dengan porsi kepemilikan sekitar 13%–15%. Tingginya kepemilikan stablecoin ini menunjukkan peran penting USDT dalam strategi manajemen risiko investor.
USDT digunakan sebagai penyimpan dana sementara, alat lindung nilai, dan penghubung antar aset kripto. Data ini menandakan bahwa investor Indonesia tidak selalu berada pada posisi agresif, tetapi siap menunggu momentum pasar.
3. Solana Unggul dalam Preferensi Ritel
Solana berada di posisi ketiga dengan porsi kepemilikan sekitar 9%–10%. Dalam survei ini, Solana mencatat kepemilikan lebih tinggi dibanding Ethereum.
Faktor kecepatan transaksi, biaya rendah, serta perkembangan ekosistem aplikasi mendorong minat investor ritel terhadap jaringan ini.
Preferensi tersebut menunjukkan bahwa utilitas dan efisiensi jaringan menjadi pertimbangan utama dalam kepemilikan aset.
4. Ethereum Tetap Berperan sebagai Infrastruktur Utama
Ethereum menempati peringkat keempat dengan porsi kepemilikan sekitar 6%–7%. Meski posisinya berada di bawah Solana dalam survei ini, Ethereum tetap memiliki peran penting sebagai fondasi smart contract dan aplikasi terdesentralisasi.
Kepemilikan Ethereum mencerminkan eksposur investor terhadap infrastruktur inti Web3, meski biaya transaksi yang lebih tinggi masih menjadi pertimbangan dalam penggunaan sehari-hari.
5. BNB Lengkapi Lima Besar
BNB melengkapi lima besar dengan porsi kepemilikan sekitar 5%–6%. Aset ini banyak dimanfaatkan dalam aktivitas perdagangan dan layanan berbasis exchange.
Kepemilikan BNB menunjukkan bahwa exchange terpusat masih menjadi pintu masuk utama investor Indonesia ke pasar kripto.
Portofolio Investor Semakin Rasional
Secara keseluruhan, survei ini memperlihatkan pola kepemilikan yang semakin konservatif. Investor Indonesia cenderung mengandalkan aset berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi sebagai fondasi portofolio.
Aset spekulatif tetap ada, namun tidak menjadi fokus utama. Pola ini mencerminkan meningkatnya kesadaran risiko seiring dengan perkembangan dan kedewasaan pasar kripto di Indonesia.