Harga Bitcoin kembali tertekan dan sempat menyentuh area Rp1,37 miliar pada perdagangan terbaru, mencerminkan tekanan jual yang masih kuat setelah koreksi tajam dalam 24 jam terakhir.
Data chart terbaru menunjukkan Bitcoin bergerak di kisaran Rp1,35 miliar – Rp1,38 miliar, jauh di bawah level psikologis sebelumnya. Volatilitas tinggi menandakan pasar belum sepenuhnya tenang setelah gelombang likuidasi besar.
Sentimen The Fed dan Politik AS Ikut Menekan Pasar
Selain faktor teknikal, pasar juga diguncang sentimen makro. Pernyataan terbaru dari Donald Trump soal rencana penunjukan ketua The Fed baru mendorong spekulasi bahwa kebijakan moneter AS bisa tetap ketat lebih lama.
Pasar merespons cepat. Probabilitas Kevin Warsh menjadi Ketua The Fed melonjak tajam, memicu kekhawatiran suku bunga tinggi akan bertahan.
Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko seperti kripto cenderung dilepas lebih dulu oleh pelaku pasar.
Likuiditas Leverage Jadi Pemicu Utama Tekanan Harga
Tekanan Bitcoin tidak datang sendirian. Dilansir dari CoinDesk, dalam satu jam saja, pasar kripto mencatat likuidasi posisi long ratusan juta dollar, dan total likuidasi 24 jam menembus $1,75 miliar.
Kondisi ini memaksa banyak posisi leverage ditutup otomatis, mempercepat penurunan harga.
Ketika harga jatuh cepat, efek domino terjadi. Trader yang menggunakan leverage tinggi kehilangan margin, sementara order jual terus menumpuk di pasar spot.
Situasi ini membuat pemantulan harga cenderung lemah dan mudah ditekan kembali.
Bitcoin Masih Bertahan, Tapi Area Ini Jadi Penentu
Secara teknikal, Bitcoin saat ini masih bertahan tipis di atas area support penting sekitar Rp1,35 miliar, yang sebelumnya menjadi zona pantulan.
Jika area ini gagal dipertahankan, tekanan lanjutan bisa mendorong harga menguji level lebih rendah.
Sebaliknya, selama Bitcoin mampu bertahan dan membentuk konsolidasi sehat, peluang pemantulan teknikal tetap terbuka.
Namun, arah berikutnya masih sangat bergantung pada stabilitas sentimen global dan arus likuiditas baru ke pasar kripto.