Jakarta, Pintu News – Bitcoin BTC sempat diperdagangkan di kisaran $75.000, mengurangi kerugian mingguan menjadi lebih dari 14%. Para analis menilai tren makroekonomi dan pergeseran aliran modal, seiring dengan turunnya harga emas dari rekor tertinggi minggu sebelumnya.
Setelah sebelumnya turun dari level tertinggi mendekati $88.000, Bitcoin kini menguji level $75.000 sebagai zona support penting di tengah meningkatnya volatilitas di pasar global, termasuk komoditas, saham, dan aset digital.
Tom Lee: Titik Terendah Bitcoin Sudah Tercapai, “Peluang Beli yang Fantastis”
Pada hari Senin (2/2), Tom Lee dari Fundstrat mengatakan kepada CNBC bahwa Bitcoin kemungkinan sudah mendekati titik terendahnya. Ia menyebut bahwa fundamental yang semakin menguat bisa memicu pemulihan harga. Timnya sebelumnya memproyeksikan harga Bitcoin mencapai $77.000 dan Ethereum $2.400 pada November 2025.
Dengan level tersebut kini mulai terealisasi selama akhir pekan, Lee menyatakan bahwa tekanan jual mungkin mulai mereda dan pemulihan bisa segera terjadi. Ia menyebut harga saat ini sebagai “peluang beli yang fantastis.”
Pada Agustus 2020, harga emas sempat mencapai puncaknya di sekitar $2.075 sebelum turun sekitar 9–10% dalam beberapa minggu berikutnya. Saat itu, Bitcoin sempat ikut turun, namun kemudian berbalik naik. Dari September 2020 hingga April 2021, harga Bitcoin melonjak lebih dari 500%, sementara emas menunjukkan kinerja yang lebih lemah.
Bull Theory mencatat bahwa saat ini emas kembali mengungguli Bitcoin secara relatif. Emas telah naik lebih dari 20% sejak awal tahun, sementara Bitcoin tertinggal setelah mengalami koreksi. Menurutnya, periode seperti ini secara historis sering diikuti oleh rotasi modal ke aset berisiko lebih tinggi, meskipun waktu pastinya sulit diprediksi.
Ia juga mengacu pada data makroekonomi, seperti ISM Manufacturing Index, yang baru-baru ini berada di atas angka 50 — sebuah sinyal ekspansi ekonomi. Kondisi ini sebelumnya sering sejalan dengan kinerja yang kuat dari aset berisiko seperti Bitcoin.