Harga Bitcoin (BTC) bertahan di sekitar $68.600 menjelang perayaan Imlek. Periode ini kerap dikaitkan dengan volatilitas musiman dan perubahan likuiditas di pasar kripto.
Secara historis, sebagian tahun menunjukkan tekanan jual menjelang Tahun Baru China. Namun pola tersebut tidak selalu konsisten.
Efek Imlek: Tekanan Musiman atau Sekadar Narasi?
Teori yang berkembang dikutip dari Cryptonews, menyebutkan bahwa pelaku pasar di Asia cenderung mengurangi eksposur menjelang libur panjang untuk kebutuhan likuiditas. Hal ini bisa memicu tekanan jual jangka pendek.
Namun, pasar kripto saat ini jauh lebih global dibanding siklus sebelumnya. Artinya, satu faktor regional tidak lagi sepenuhnya menentukan arah harga.
Di sisi lain, Brian Armstrong menyebut investor ritel sedang “buying the dip.” Data menunjukkan saldo Bitcoin dan Ethereum ritel pada Februari setara atau lebih tinggi dibanding Desember.
Jika tren akumulasi ini berlanjut, tekanan musiman berpotensi tertahan oleh permintaan jangka panjang.
Baca juga: 3 Koin Kripto Reli Dua Digit Jelang Imlek 2026, Siapa Paling Kuat?
Analisis Teknikal: Level Kritis di $65.000 dan $72.000
Secara teknikal, BTC masih berada di bawah SMA 50 hari di sekitar $83.900, yang mengindikasikan tren jangka pendek masih bearish.
Harga juga membentuk pola lower high sejak puncak di area pertengahan $90.000 pada Januari. Indikator RSI berada di sekitar 35, naik dari kondisi oversold di sekitar 20 awal bulan ini.