
Finalisasi kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat (AS) dengan tarif resiprokal 19% diperkirakan menekan sejumlah sektor berorientasi ekspor. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut sektor tekstil dan garmen paling rentan, disusul manufaktur seperti produsen ban dan komponen yang memiliki pasar besar di AS.
Sektor perikanan dan udang juga berpotensi terdampak karena daya saing harga bisa melemah akibat tarif tersebut.
Di sisi lain, komoditas crude palm oil (CPO) disebut dikecualikan dari kebijakan tarif, sehingga berpeluang menjaga bahkan memperluas pangsa pasar di AS. Keunggulan efisiensi dibanding minyak nabati lain dinilai menjadi katalis positif bagi emiten perkebunan.
Sektor energi turut berpotensi diuntungkan, seiring permintaan batu bara dan gas yang masih kuat di tengah dinamika perdagangan global.