Seorang solo miner berhasil menambang 1 blok Bitcoin dan menerima 3,128 BTC senilai sekitar $197.546 atau setara Rp3,42 miliar.
Kejadian ini tergolong langka, dengan peluang diperkirakan hanya 1 banding 8.000.
Peristiwa ini terjadi di tengah hashrate jaringan Bitcoin yang telah melampaui 550 exahash per detik (EH/s) per Juli 2025. Semakin tinggi hashrate global, semakin kecil peluang penambang individu menemukan blok sendirian.
Apa Itu Solo Mining dan Kenapa Sulit?
Solo mining adalah aktivitas menambang Bitcoin tanpa bergabung ke mining pool. Penambang menjalankan node sendiri dan jika berhasil menemukan blok, seluruh reward menjadi miliknya.
Sebagai perbandingan, dalam pool mining, banyak penambang menggabungkan kekuatan komputasi dan membagi reward sesuai kontribusi. Sistem ini lebih stabil, tetapi reward tidak diterima penuh.
Dengan hashrate jaringan di atas 550 EH/s, satu perangkat seperti Antminer S19 Pro (110 TH/s) hanya menyumbang sekitar 0,00002% dari total daya komputasi global. Secara statistik, peluang menemukan blok sendirian bisa memakan waktu sangat lama.