
Pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS mulai memicu perbedaan kinerja di pasar saham Indonesia. Tekanan ini membuat IHSG lebih volatil, terutama karena meningkatnya kekhawatiran investor asing terhadap risiko nilai tukar.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menyebut, dampak pelemahan rupiah tidak merata. Emiten dengan utang dan biaya berbasis dolar AS cenderung tertekan, sementara perusahaan berorientasi ekspor justru diuntungkan.
“Emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar akan menikmati kenaikan saat dikonversi ke rupiah, sedangkan yang punya utang dolar berisiko mengalami tekanan margin dan rugi selisih kurs,” ujarnya.
Sektor yang paling diuntungkan dalam kondisi ini adalah komoditas dan ekspor, seperti batu bara, nikel, crude palm oil (CPO), serta minyak dan gas. Emiten di sektor tersebut mendapat dorongan dari penguatan pendapatan dolar AS yang berfungsi sebagai natural hedge.
Sementara itu, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan daya beli domestik akibat inflasi impor yang meningkat, sehingga ruang pelonggaran suku bunga Bank Indonesia menjadi lebih terbatas.