Harga saham yang terlihat fdi aplikasi perdagangan belum tentu mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya. Harga tersebut dapat bergerak naik dan turun karena banyak faktor, mulai dari kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, sentimen investor, hingga aktivitas jual beli dalam jangka pendek.
Akibatnya, saham dengan harga Rp1.000 per lembar belum tentu lebih murah dibandingkan saham seharga Rp5.000 per lembar. Saham Rp1.000 bisa saja sudah terlalu mahal jika kondisi fundamental perusahaannya lemah. Sebaliknya, saham Rp5.000 dapat dianggap masih murah apabila nilai wajarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.
Untuk menilai hal tersebut, investor biasanya menghitung nilai intrinsik saham. Nilai ini digunakan sebagai estimasi harga wajar berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, arus kas, dividen, dan pertumbuhan bisnis pada masa mendatang.
Meski demikian, nilai intrinsik bukanlah angka mutlak. Hasilnya sangat bergantung pada data dan asumsi yang digunakan. Oleh karena itu, cara menghitung nilai intrinsik saham perlu dipahami dengan benar agar hasil valuasi tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.