Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan sempat turun di bawah level psikologis US$64.000 pada Selasa (28/7), di tengah meningkatnya sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) besok (29/7) waktu setempat.
Pelaku pasar kini menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan menjadi salah satu katalis utama pergerakan aset kripto dalam jangka pendek.
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.490, turun sekitar 2,85% dalam 24 jam terakhir. Sepanjang periode tersebut, harga BTC bergerak di rentang US$63.055 hingga US$65.546.
Penurunan ini juga diikuti pelemahan sejumlah aset kripto utama lainnya, seperti Ether (ETH), XRP, dan Solana (SOL).
Sentimen Risk-Off Tekan Bitcoin Bersama Pasar Asia
Tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah pasar saham Asia mengalami aksi jual besar-besaran.
Melansir Crypto.News, Indeks KOSPI Korea Selatan sempat anjlok lebih dari 8%, memicu penghentian perdagangan (circuit breaker) selama 20 menit.
Setelah perdagangan dibuka kembali, pelemahan bahkan mendekati 10%. Saham teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix juga turun lebih dari 12%.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang ikut terkoreksi sekitar 4%, menyusul pelemahan saham teknologi di Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya. Saham Nvidia, misalnya, turun sekitar 5%, sehingga memperkuat sentimen negatif terhadap aset berisiko.
Meski demikian, pelemahan Bitcoin tidak sepenuhnya disebabkan oleh pasar saham Asia. Sejumlah faktor lain turut memengaruhi pergerakan harga, mulai dari ekspektasi kebijakan The Fed, arus dana ETF Bitcoin, hingga perkembangan geopolitik global.