Mining Bitcoin bukan hanya soal mencari alat mining Bitcoin dengan hashrate paling tinggi. Konsumsi listrik, efisiensi energi, dan kemampuan mengelola panas ikut menentukan bagaimana sebuah mesin mining dapat menjalankan komputasi secara efektif.
Salah satu perangkat yang menggunakan pendekatan tersebut adalah Teraflux, lini ASIC miner yang dikembangkan Auradine, perusahaan yang kemudian berganti nama menjadi Velaura AI pada 2026. Teraflux tersedia dalam beberapa konfigurasi pendinginan dan dirancang untuk menjalankan algoritma SHA-256 yang digunakan dalam mining Bitcoin.
Hal ini membuat Teraflux menarik untuk ditinjau bukan hanya dari angka TH/s yang ditawarkan, tetapi juga dari hubungan antara hashrate, konsumsi daya, efisiensi J/TH, dan sistem pendinginannya. Lantas, bagaimana teknologi tersebut bekerja dan apa arti spesifikasinya dalam proses mining Bitcoin?
Teraflux adalah lini ASIC miner yang dirancang untuk menjalankan komputasi SHA-256, termasuk untuk mining Bitcoin. Berbeda dari komputer serbaguna, ASIC menggunakan chip yang dibuat untuk menjalankan jenis komputasi tertentu secara berulang.
Lini Teraflux mencakup AT2880 dengan air cooling, AI3680 dengan immersion cooling, serta AH3880 dengan hydro cooling.
Ketiganya memiliki tingkat hashrate, efisiensi, dan pendekatan pengelolaan panas yang berbeda.
Perbedaan tersebut penting karena kemampuan sebuah ASIC tidak cukup diukur dari seberapa besar hashrate yang tercantum pada spesifikasinya. Untuk memahami alasannya, perlu dilihat terlebih dahulu bagaimana Teraflux menjalankan proses hashing dalam mining Bitcoin.