Jakarta – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, pasar keuangan global — termasuk pasar kripto — bersiap menghadapi fenomena musiman yang dikenal sebagai “Christmas Rally” atau “Santa Claus Rally”, di mana harga aset seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) cenderung menguat pada akhir Desember hingga awal Januari.
Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (11/11/2025), reli ini biasanya dipicu oleh sentimen positif investor, penyesuaian portofolio akhir tahun, serta menurunnya likuiditas pasar selama musim liburan. Tren yang awalnya muncul di pasar saham kini juga meluas ke dunia kripto, seiring meningkatnya adopsi aset digital sebagai penyimpan nilai digital yang menyaingi emas.
Secara historis, Bitcoin menunjukkan kinerja lebih baik dari emas ketika likuiditas tinggi dan suku bunga rendah, meski volatilitasnya juga meningkat di masa pasar bergejolak. Tahun ini, kekuatan reli akhir tahun diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan tingkat inflasi AS.
Pada Oktober 2025, The Fed memangkas suku bunga ke kisaran 3,75%–4,00%, yang memicu pelemahan dolar AS dan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai seperti Bitcoin dan emas. Inflasi AS yang naik tipis ke 3,0% turut memperkuat tren tersebut.
Emas tetap menjadi aset pelindung nilai klasik, dengan permintaan meningkat pada kuartal keempat karena pembelian perhiasan di Tiongkok dan India serta aksi akumulasi oleh bank sentral. Namun, Bitcoin, yang sempat menembus USD 125.000 pada Oktober 2025, kini disebut sebagai “emas digital” berkat sifatnya yang langka dan terdesentralisasi.
Meski sama-sama dianggap penyimpan nilai, kedua aset ini memiliki penggemar berbeda: emas lebih diminati bank sentral dan investor institusional, sementara Bitcoin populer di kalangan generasi muda dan pelaku teknologi.
Analis memperkirakan, reli akhir tahun kali ini akan menjadi ajang pembuktian — apakah emas tradisional tetap unggul, atau Bitcoin kembali memimpin sebagai aset favorit di era digital.