Analis sekaligus co-founder Fundstrat dan kepala Bitmine, Tom Lee, kembali mengemukakan pandangan bullish terhadap Bitcoin dan Ethereum.
Dalam sebuah program yang ia hadiri, Lee tidak hanya membahas perjalanan kariernya, tetapi juga membagikan salah satu kerangka prediksi harga paling agresif yang pernah ia sampaikan mengenai aset kripto utama.
Menurut Lee, struktur pasar saat ini membuka peluang besar bagi reli kuat di tahun mendatang. Ia menegaskan bahwa Bitcoin berpotensi mencapai $200,000, level yang mewakili kenaikan sekitar 122% dari harga BTC saat ini yang berada di sekitar $90,069.
Namun, Lee menyebut ada momen penting yang menjadi kunci pembuktian prediksinya: Januari 2026.
Jika Bitcoin Tembus $126,000 di Januari, Siklus Empat Tahun Bisa “Berakhir”
Lee menjelaskan bahwa jika Bitcoin berhasil menutup Januari di atas $126,000, maka narasi klasik empat tahun yang selama ini menjadi acuan investor dapat dianggap selesai. Menurutnya, penutupan di atas level tersebut akan menunjukkan bahwa pasar telah memasuki dinamika baru.
Ia bahkan menilai bahwa 2026, yang secara teori seharusnya menjadi tahun “lemah” menurut pola empat tahunan, justru berpotensi menjadi tahun yang sangat kuat bagi aset kripto. Faktor utamanya adalah pergeseran cerita besar Bitcoin.
“Ini bukan lagi sekadar soal ‘digital gold’,” kata Lee.
Prediksi Bullish untuk Ethereum: Dari $16,000 hingga $250,000?
Selain Bitcoin, Lee memberikan proyeksi agresif untuk Ethereum. Ia menyoroti bahwa rasio historis ETH/BTC berada di sekitar 0.08. Jika Bitcoin benar-benar menuju $200,000, maka Ethereum hanya perlu kembali ke rata-rata rasio tersebut untuk mencapai harga sekitar $16,000.
Sebagai skenario lanjutan yang lebih ekstrem, Lee menyebut kemungkinan nilai jaringan Ethereum dapat menyamai Bitcoin. Jika itu terjadi, harga ETH secara teoritis bisa berada di sekitar $250,000.
Lee juga mengaitkan pandangannya dengan valuasi teknologi besar. Ia mencontohkan OpenAI, yang menurutnya akan bernilai sekitar $1 triliun jika IPO sekarang. Dengan logika serupa, ia menilai Ethereum juga memiliki ruang untuk mencapai valuasi beberapa triliun dolar jika menjadi infrastruktur dominan di dunia blockchain.
Volatilitas Oktober Disebut “Glitch”
Lee juga membahas penurunan tajam yang terjadi pada Oktober 2025. Ia menyebut volatilitas ekstrem pada 10 Oktober sebagai sebuah glitch, bukan refleksi pasar yang sebenarnya.
Menurutnya, mekanisme automatic deleverage (ADL) di salah satu stablecoin sempat aktif karena kesalahan harga di satu bursa, padahal harga stablecoin tersebut tetap stabil di platform lain. “Jika harga itu bersifat komposit, tidak ada yang akan likuidasi,” jelas Lee.
Ia mengatakan bahwa aktivasi ADL dari satu exchange menyebar menjadi gelombang likuidasi global.
Namun ia melihat sisi positifnya: Bitcoin bertahan di rentang $86,000–$92,000 dan Ethereum di sekitar $3,100, membentuk base kuat mirip titik rendah bear market 2022.
Bitmine Gandakan Pembelian ETH, Sebut Asetnya “Permanen”
Lee juga menegaskan posisi Bitmine terhadap Ethereum. Menurutnya, perusahaan kini memegang sekitar 3.7 juta ETH, jumlah yang lebih besar dari seluruh Digital Asset Treasuries (DATs) lainnya.
Ia menegaskan bahwa Bitmine tidak melihat alasan untuk menjual, terutama karena adanya imbal hasil dari staking. ETH yang dimiliki perusahaan disebut sebagai aset permanen dalam neraca mereka.
Dengan landasan tersebut, Lee menyimpulkan bahwa Ethereum sudah mencapai titik terendahnya.