Harga minyak melonjak tajam setelah konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas.
Brent crude naik 13% dan menyentuh US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Lonjakan ini terjadi setelah Iran memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak global.
Pasar merespons cepat. Ketegangan geopolitik mendorong kekhawatiran gangguan suplai energi global.
Dampaknya tidak hanya terasa di pasar komoditas, tetapi juga merembet ke aset berisiko seperti saham dan kripto, termasuk Bitcoin (BTC).
Harga Minyak Melejit, Risiko Inflasi Menguat
Selat Hormuz adalah titik vital distribusi energi global. Lebih dari seperlima pengiriman minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari. Ketika akses terganggu, pelaku pasar langsung mengantisipasi kelangkaan suplai dan lonjakan harga energi.
Dalam laporan yang beredar, sejumlah kapal tanker dilaporkan terkena serangan rudal di sekitar selat tersebut.
Lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan gas, memilih berlabuh dan menghentikan perjalanan. Perusahaan pelayaran global seperti Maersk juga menunda pengiriman melalui jalur itu.
Kenaikan harga minyak biasanya berdampak langsung pada inflasi. Energi menjadi komponen penting dalam rantai produksi dan distribusi global.
Saat harga energi naik, biaya logistik dan produksi ikut terdorong. Inflasi yang meningkat berpotensi memperketat kebijakan moneter dan mengurangi likuiditas pasar. Kondisi inilah yang sering menekan aset berisiko.