Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan volume perdagangan yang menembus $53,6 miliar, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar $1,49 triliun.
Pergerakan cepat ini ikut mengangkat aset kripto besar lainnya. Ethereum (ETH) naik sekitar 7,8% ke $2.366, sementara XRP menguat sekitar 3% ke level $1,37. Lonjakan serentak ini menunjukkan adanya dorongan pasar secara luas, bukan hanya pergerakan individual Bitcoin.
Namun, di balik reli tersebut, data menunjukkan sinyal yang tidak sepenuhnya mendukung tren bullish.
Kenaikan Dipicu Derivatif, Bukan Permintaan Nyata
Analis menilai lonjakan Bitcoin kali ini lebih banyak dipicu oleh dinamika pasar derivatif dibandingkan masuknya dana baru dari investor.
Menurut Markus Thielen dari 10x Research, kenaikan ini berkaitan dengan “unwinding” posisi put option di kisaran $55.000 hingga $60.000.
Saat harga Bitcoin menembus $70.000, posisi tersebut menjadi tidak relevan, memaksa market maker melakukan pembelian untuk menyeimbangkan risiko.
Tekanan beli yang bersifat teknis ini kemudian memicu efek berantai. Trader yang sebelumnya memasang posisi short terpaksa menutup posisi mereka, yang justru mempercepat kenaikan harga. Fenomena ini dikenal sebagai short squeeze.
Meski terlihat seperti reli kuat, kondisi ini tidak selalu mencerminkan peningkatan permintaan riil di pasar spot.