Menurut investor dan analis Tom Lee, kondisi saat ini justru menunjukkan bahwa pasar berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding saat mencapai puncaknya pada Januari 2026.
Salah satu faktor utama adalah ketahanan pasar terhadap kenaikan harga energi. Harga minyak sempat melonjak di atas $100 per barel setelah ketegangan di Selat Hormuz.
Namun, pasar saham AS tetap mampu pulih dan bahkan mencetak rekor baru. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi AS lebih mampu menyerap tekanan energi dibanding negara lain.
Tom Lee menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa struktur pasar saat ini lebih solid dibanding sebelumnya.
Laba Perusahaan Justru Meningkat
Faktor kedua datang dari kinerja perusahaan. Meski konflik terjadi, laba perusahaan justru mengalami peningkatan.
Menurut Lee, pengeluaran pemerintah untuk sektor pertahanan yang mencapai sekitar $30 miliar per bulan, bahkan berpotensi naik hingga $60 miliar, memberikan dorongan bagi ekonomi.