Identitas Satoshi Nakamoto kembali jadi sorotan setelah investigasi terbaru dari New York Times.
Namun di tengah rasa penasaran publik, pelaku pasar justru melihat hal lain yang jauh lebih penting, bukan siapa Satoshi, tapi apa yang bisa terjadi jika Bitcoin (BTC) miliknya bergerak.
Sejak Bitcoin diperkenalkan pada 2008 lewat whitepaper “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”, sosok di balik nama Satoshi Nakamoto tetap anonim.
Hingga kini, tidak ada kepastian apakah ia individu, kelompok, atau kolektif. Meski misteri ini terus memicu spekulasi, dampaknya terhadap pasar dinilai tidak langsung.
Kenapa Market Tidak Terlalu Peduli Identitasnya?
Selama lebih dari satu dekade, pasar memperlakukan Bitcoin milik Satoshi sebagai “dead coins”. Artinya, aset tersebut dianggap tidak akan pernah masuk ke sirkulasi kembali.
Asumsi ini secara tidak langsung memperkuat narasi kelangkaan Bitcoin. Ketika sebagian besar pelaku pasar yakin bahwa jutaan BTC tersebut tidak akan dijual, tekanan suplai pun dianggap lebih rendah.
Selain itu, hilangnya Satoshi sejak 2011 juga memperkuat karakter utama Bitcoin sebagai sistem yang benar-benar terdesentralisasi. Tidak ada figur sentral yang bisa mengontrol arah kebijakan atau keputusan jaringan.
Pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, bahkan pernah menyebut bahwa hilangnya Satoshi adalah salah satu keputusan terbaik dalam sejarah Bitcoin.
Hal serupa juga disampaikan oleh mantan CEO Binance, Changpeng Zhao, yang menilai anonimitas tersebut sebagai hal positif bagi ekosistem.