Seorang miner rumahan berhasil membawa pulang hadiah 3,1382 Bitcoin (BTC) atau sekitar Rp3,6 miliar setelah menemukan satu blok Bitcoin menggunakan perangkat mining seharga sekitar US$150 atau sekitar Rp2,4 juta.
Kejadian langka tersebut terjadi pada Kamis (9/7) melalui layanan Public Pool, menjadikannya salah satu kisah solo mining yang paling banyak dibicarakan komunitas Bitcoin tahun ini.
Miner tersebut berhasil memvalidasi blok #957382 dan memperoleh seluruh hadiah blok karena menambang secara solo, bukan bergabung dalam mining pool.
Total hadiah yang diterima terdiri dari 3,125 BTC sebagai block subsidy dan sekitar 0,0132 BTC dari biaya transaksi.
Perangkat yang digunakan adalah Bitaxe, miner Bitcoin berukuran kecil dengan hashrate rata-rata sekitar 995,2 GH/s atau mendekati 1 TH/s.
Mesin tersebut dilaporkan beroperasi selama sekitar delapan jam sebelum menghasilkan hash yang memenuhi target jaringan Bitcoin dan berhasil menambang blok tersebut.
Karena alamat Bitcoin yang digunakan hanya terhubung dengan satu perangkat, seluruh hadiah blok langsung menjadi milik miner tersebut tanpa dibagi kepada peserta lain maupun dikenakan biaya pool.
Mengapa Kejadian Ini Sangat Langka?
Keberhasilan tersebut menjadi sorotan karena peluangnya sangat kecil.
Saat blok berhasil ditemukan, hashrate jaringan Bitcoin berada di kisaran 874 EH/s, sedangkan Bitaxe hanya memiliki hashrate sekitar 1 TH/s. Dengan porsi komputasi yang sangat kecil dibanding keseluruhan jaringan, peluang menemukan satu blok secara mandiri nyaris tidak signifikan.
Sejumlah analis memperkirakan perangkat dengan hashrate sekitar 1 TH/s rata-rata membutuhkan waktu 16.000 hingga 18.300 tahun untuk menemukan satu blok apabila melakukan solo mining.
Namun, dalam kasus ini, blok justru berhasil ditemukan hanya dalam semalam. Itulah sebabnya banyak komunitas menyebut peristiwa ini sebagai “jackpot Bitcoin”.